Hypiwish

Kesehatan Reproduksi Remaja di Indonesia

Ada sekitar 60.861.350 remaja berusia 10-24 tahun, atau sekitar 30,2% dari total penduduk di Indonesia. besarnya proporsi penduduk berusia muda, secara teoritis mempunyai dua makna. Pertama, besarnya penduduk usia muda merupakan modal pembangunan yaitu sebagai faktor produksi tenaga manusia (human resources), apabila mereka dapat dimanfaatkan secara tepat dan baik. memanfaatkan mereka secara tepat dan baik diperlukan beberapa persyaratan. diantaranya adalah kemampuan keahlian, keterampilan dan kesempatan untuk berkarya. Kedua, apabila persyaratan tersebut tidak dapat dimiliki oleh penduduk usia muda, yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu penduduk usia muda justru menjadi beban pembangunan.

Remaja memiliki dua nilai yaitu nilai harapan (idelisme) dan kemampuan. Apabila kedua nilai tersebut tidak terjadi keselarasan maka akan muncul bentuk-bentuk frustasi. dari sudut pandang kesehatan, tindakan menyimpang yang akan mengkhawatirkan adalah masalah yang berkaitan dengan seks bebas (unprotected sexuality), penyebaran penyakit kelamin, kehamilan diluar nikah atau kehamilan yang tidak dikehendaki (adolecent unwanted pregnancy) di kalangan remaja. Masalah- masalah lainnya yaitu aborsi dan pernikahan usia muda.

Dari beberapa penenlitian tentang perilaku reproduksi remaja yang telah dilakukan, menunjukkan tingkat permisivitas remaja di Indonesia cukup memperihantinkan. Faturochman (1992) merujuk beberapa penelitian yang hasilnya dianggap mengejutkan, seperti penelitian Eko seorang remaja di Yogyakarta (1983). Penelitian SAHAJA di Medan (1985) dan di Kupang (1987), dan penelitian yang dilakukan Unika Atmajaya Jakarta dengan Perguruan Ilmu Kepolisian.

Pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasan tidak sehat seperti merokok, alkohol, obatan terlarang, tawuran. Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi, karena kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi.

Kadangkala pencetus perilaku atau kebiasaan tidak sehat pada remaja justru adalah akibat ketidak-harmonisan hubungan ayah dan ibu, sikap orantua yang menabukan pertanyaan anak atau remaja tentang fungsi atau proses reproduksi dan penyebab rangsangan seksualitas (libido), serta frekuensi tindak kekerasan anak (child physical abuse). mereka cenderung merasa risih dan tidak mampu untuk memberikan informasi yang memadai. Karenanya, mudan timbul rasa takut dikalangan orangtua dan guru, bahwa pendidikan yang menyentuh isu perkembangan organ reproduksi dan fungsinya justru malah mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah (Iskandar, 1997).

Angka pernikahan dini (menikah sebelum usia 16 tahun) hampir dijumpai di seluruh propinsi di Indonesia. sekitar 10% remaja melahirkan anak pertamanya pada usia 15-19 tahun. kehamilan remaja akan meningkat resiko kematian dua atau empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan perempuan yang hamil usia lebih dari 20 tahun. Demikian pula resiko kematian bayi, 30% lebih tinggi pada usia remaja dibandingkan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu usia 20 tahun atau lebih (GOI & UNICEF, 2000).

source : Kesehatan Reproduksi (Marmi, 2013)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *