Hypiwish

Senandung Ta’aruf “Love is Like Coffe”

sebuah
Persembahan
untuk
Orang-orang yang
ku cintai

“kisah nyata perjuangan insan meluruskan
niat dalam hubungan islam”

Persembahan

“Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya kami menciptakan kalian secara main-main (saja), dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada kami?”
(QS. Al mu’minun : 115)

Penggalan hadist tersebut, mengajarkan ku untuk tidak pernah main-main dalam menghadapi hidup meski sebagian orang berkata hidup ini adalah permainan. Karena sampai detik ini, aku belum bisa memberikan sesuatu secara material. Maka inilah persembahan sederhana ku.

Terutama untuk ibundaku tercinta Nuraini (Bak oksigen kehidupan jiwa, menjadi inspirator dalam hidupku) yang sejak dari awal ku melihat dunia hingga kini, telah mengenal permainan dunia menghadirkan sejuta pelangi ilmu pengetahuan untuk anak-anaknya. Dan juga Ayahandaku Kamarudin ku wujudkan tulisan ini bentuk kasih pada mu ayahanda…

Terkhusus buat para adik-adik sebagai penerus bangsa dalam dunia literasi, salam karya ku buat kalian.

Ku persembahkan juga untuk abang, kakak dan adikku serta seluruh pencinta buku….
Syukron ilallah….

Senandung Taaruf
Writed by : Novi Yanti

Taaruf jauh lebih baik dibandingkan LDR (Cinta Jarak Jauh) (terjemahan)).
-Novi Yanti (Penulis)

Denting jam berbunyi mengitari angka-angka yang tertera pada jam dinding waktu itu. Sungguh kuasa Tuhan aku dapat menikmati ini semua. Disini,,,,, ku katakan, salah satu alasan kenapa mereka memilih taaruf? Faktor predisposisi yang ada, karena seseorang tersebut takut jatuh hati pada kaum adam akibat trauma masa lalu saat pertama kali mengenal yang namanya cinta dan rasa ditimbulkan memang sakit ketika keinginan tidak berbalas.

“Cinta bikin orang gila”, begitulah opini sebagian khalayak ramai. Mungkin itu ada benarnya. Dalam konteks kehidupan nyata saat ini begitu banyak pemuda atau pemudi yang rela melanggar aturan-aturan agama demi pacarnya. Alasan garing mereka, ” cinta butuh pengorbanan”. Kalau berkorban harta atau nyawa untuk membela agama Allah, tentulah tidak kita ingkari. Namun bagaimana jika yang dikorbankan adalah syariat islam dan yang dicari bukan keridhaan Allah?

Ada sebuah kutipan : Dan diantara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah. Seandainya orang-orang yang zalim itu menyaksikan tatkala mereka melihat azab (pada hari kiamat) bahwa sesungguhnya seluruh kekuatan adalah milik Allah dan bahwa Allah sangat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS Al- Baqarah [2]: 165)

Part 1

Hijau permadani desa ini. Desa terpencil yang begitu jauh dengan pusat kota. Jika kalian bertanya dimana desa ini terletak, maka tidak banyak insan yang dapat menjawab dengan benar dimana desa ini. Kebanyakan mereka hanya akan menjawab “sepertinya pernah saya dengar”. Namun jikalau kalian berada di desa ini, kalian akan menyaksikan liukan ombak yang tak beraturan, desiran air ke dasar daratan, cekungan teluk bak pesisiran pantai yang tertata ditepi laut bahkan tidak lupa matahari menghadirkan pelangi jiwa dikala senja. Satu hal yang dapat aku sampaikan, nikmatilah anugrah sang pencipta ini dikala hati gundah atau saat merasa jenuh dengan kesibukan aktifitas mu. Karena akan ada ikan yang menari untuk mu dengan riang hingga dapat membekukan perasaan serta mengkristalkan semua asa yang kalian pendam.

Ketakjuban itu dilukiskan oleh salah satu temanku yang pernah berkunjung kesana dengan menjadikannya sebuah blogger. Beliau adalah isna (teman yang kukenal saat masih dibangku kuliah kini telah menjadi sahabat dalam jiwa ku). Desa ini terletak di pesisiran pinggir laut tanjung jabung timur salah satu kabupaten di profinsi Jambi. Meski terpencil namun memiliki hasrat keunikan daya tarik tersendiri bagi yang mengunjunginya.

Tepat dihari ini, ingin ku perkenalkan seseorang padamu yakni anit, pinta isna saat kami masih sering bersama.

Isna : “Ingatkah kamu, saat kita tengah asyik berbincang, tiba-tiba ada gadis belia yang mengajak mu makan ice cream bersamanya?”

Maeblapo : “yeaa, yang aku panggil dengan bocah ingusan :)… heee

Isna : “nah,,,, inilah dia (sambil menunjuk kearah anit)

Hari ini ulangtahun anit yang ke-20. Kami bahkan tiada yang menyangka, kini ia telah beranjak dewasa. Dan ia bukan bocah ingusan lagi. Ia tumbuh dengan cantik, wajah nan elok berseri serta kerudung kepala yang selalu ia jaga agar tetap tegar serta dihargai kaum adam. Nostalgia hidup membuatnya selalu terpukau dengan seisinya yang menjadikannya hampir setiap detiknya ia berpikir bahwa hidupnya kini masih tetap kosong tanpa ada ruang sepi yang disia-siakan. Anit memang dikenal sosok yang sangat menjaga kesantunan, baik itu penampilan maupun sikap. 

Yeah…. Itulah anit yang senantiasa menjaga konsistensinya menjomblo. Baginya jomblo itu bukan takdir seperti yang seringkali disindirkan oleh teman sebayanya, namun jomblo itu pilhan. Meski sejujurnya ia sempat goyah terhadap konsistensinya itu, namun ia kembali tetap tegar serta menjadikan sebagai petikan kisah harapan taaruf nantinya. Waktu itu, memang sempat masuk kisah kasih pendek dalam email ku dan tanpa disadari bahwasanya ialah anit. Sekilas seperti ini :

Kak, ketahuilah kini aku telah terbuai dengan permainan asmara. Aku ingin kakak tahu agar sedikitnya ada saran dari mu kakak..

Kak,, pada saat malam tahun baru itu menyelinap suara asing melalui telepon genggam yang aku miliki. Aku juga tidak tahu pasti siapa dia. Tapi melalui itu, membuat aku mengenal dia lebih lama. Aku mengenalnya dari kelas satu sekolah menengah atas hingga sekarang aku telah hampir menyelesaikan awal studi kebidanan.

Dia mengungkapkan perasaannya pada saat aku menduduki bangku sekolah kelas dua menengah atas. Disaat itulah aku berusaha melawan rasa yang mengiyakannya. Aku hanya bisa berkata “maaf untuk saat ini, belum saatnya”. Bagiku, masih terlalu belia untuk mengenal itu semua.

Dia berusaha semampu dia untuk tetap meyakinkan ku namun tetap aku masih menganggap dia hanya sebagai sahabat. Berulang kali dia mencoba ingin menemuiku tapi tetap beribu alasan selalu aku lontarkan untuk menolak kemauannya yang ingin menemuiku.

*** peraturan keluarga yang super disiplin dengan kepatuhan budaya membuatku sulit mengenal semua itu kak. Termasuk untuk menemuinya secara nyata.

Aku memang putri tunggal dalam keluarga dari empat bersaudara. Itulah kenapa diriku sangat dikhawatirkan dengan keluarga ku. Bahkan pada saat bangku sekolah tetap saja ada pengintai utusan abangku yang pertama, hingga satpam sekolah ternyata kawan karib abang ku. Dan yang lebih parah lagi kak, tata usaha sekolah itu merupakan dosen pembimbing abangku. 

Alangkah ketatnya pengawasan sayang abang terhadap adik putri tunggalnya. Abang memang sayang dengan aku , itulah kenapa sampai detik ini aku tetap tidak mengenal yang namanya “pacaran”. Meski ku sadari, dalam islam tidaklah mengenal pacaran, tapi sebagai gadis pubertas saat itu terkadang wajarlah baginya untuk mengetahui dunia itu. Iya kan kak ?? Namun pengetahuan dan pelajaran tentang itu begitu banyak yang aku dapat dari orang-orang terdekatku.

Terkadang aku berpikir aneh dengan diriku sendiri. Aku bisa membantu dalam penyelesaian masalah asmara orang-orang yang berkonsultasi dengan diriku. Bahkan aku pernah dengan sengaja menjodohkan teman-temanku ketika dibangku sekolah menengah pertama dulu dengan teknik keusilan yang sengaja aku perbuat. Dan al hasil hubungan mereka bertahan bahkan ada yang sampai ke pelaminan. Mereka tersenyum bangga dengan keusilan ku. Namun bagiku itulah goresan takdir mereka yang telah ditetapkan Tuhan untuk hambaNya. Bukankah begitu kak??

>> saat memasuki studi pendidikan tepat pada semester tiga akademik, ku memberanikan diri untuk menemuinya setelah tiga tahun kami hanya saling mengenal melalui jejaring sosial. Ini ku lakukan juga memiliki alasan hanya karena ingin menjemput kawan yang satu akademik dengan ku dan beliau hendak bermalam di rumah. Karena tidak ada yang bisa menemaniku akhirnya aku meminta tolong kepada dia. Dan dia menginyakan permintaan ku. Melalui malam itulah aku secara diam-diam mendalami bagaimana sikap dia. Terkesan jahat bukan kak? Memanfaatkan seseorang demi kepentingan pribadi kita. Namun siapa sangka ternyata kecurigaan negatif terhadap dia yang tersimpan selama ini salah. Aku telah salah menilai seseorang. Dia begitu baik dan sangat menjaga sikapnya sebagai calon pemimpin. Aku tidak menduga akan terjadi perasaan pada dirinya. Aku berusaha melawan itu semua karena cinta datang terlambat. Dia telah memilih wanita lain agar bisa melupakan ku secara perlahan.

Sembari diiringi perasaan ini, aku memutuskan untuk tidak memenangkan ego ku. Ada kalanya kita harus bisa mengalahkan ego terhadap hati yang menyiksa seperti lontaran kata kakak dulu. Akhirnya aku memutuskan untuk membuat kata pada kotak masuk dunia mayanya apa yang aku rasakan terhadap dia, namun semua itu terlambat. Jujur aku akui malu rasanya melakukan itu, namun ini kulakukan demi konsistensiku untuk tetap menjomblo. Satu hal kenapa aku sengaja melakukan itu semua? Aku hanya ingin dia tahu apa yang aku rasakan terhadap dirinya meski sesungguhnya aku telah tahu apa jawaban dan bakalan terjadi. Bermula dari kejadian itulah, aku secara perlahan menghilangkan jejak dari dunia maya ku. Filosofi kehidupan terkadang membuat seribu tanda tanya dan sejuta impian untuk mewujudkan keinginan dari hati kecil.

Setelah selang beberapa lama waktu berlalu, hari-hari ku tanpa ada dia. Bak jelangkung, dia datang tiba-tiba disaat aku telah memulai mengumpulkan kepingan hati yang retak. Aku juga tidak tahu kenapa dia datang lagi. Dia memunculkan dirinya kembali. Dan sebelum kejadian itu, aku pernah mendatangi tempat yang pernah aku, dia dan kawan ku mengobrol bersama. Aku hanya rindu dengan masa lalu ku. Itulah yang memotivasi diriku mendatangi tempat itu. Bahkan hal yang sangat aku benci setiap melewati jalan persinggahan malam pertama kami bertemu, aku selalu terbayang akan dirinya. Sesungguhnya aku pernah marah pada diriku sendiri, namun sang kholiq tetap bersama hambanya yang membuat ku tegar menjalani dan melewati ini semua.

# Terpaan cobaan dan ujian silih berganti membuat ku terkadang pasrah dengan keadaan. Cinta pertama adalah hal terindah dalam hidup namun hal itu pula yang telah membuat batin ini sakit. Aku tidak ingin terlihat lemah dan rapuh dihadapan semua orang, maka dari itu aku terus dan selalu berusaha untuk bangkit meski aku pernah terjatuh kedalam jurang yang begitu dalam. Aku pun berhasil bangkit melalui berbagai lomba yang ku ikuti dan kegiatan kampus yang membuat ku mengejar angin.

Hari melipat minggu, minggu mengilas bulan terus aku lalui hingga pada akhirnya setelah selesai dinas yang kesekian kalinya tidak terasa aku telah memasuki tingkat akhir akademik.

Hari itu, sabtu 15 februari 2014 setelah seharian penuh menghadapi 280 soal,kami dapat dorprize dari akademik, kami diliburkan selama 5 hari. Dan pada hari minggunya aku pulang kerumah. Entah kenapa, ada pesan pendek dikotak masuk pada telepon genggam milikku dan itu berasal dari dia. Dia menanyakan dimanakah aku sekarang?? Aku membalasnya bahwasanya aku dirumah. Dia terlihat begitu girang hingga dia berulangkali menelpon namun hanya sesekali aku angkat.

Pada saat dia menelpon ku lagi, akhirnya aku mencoba mengangkatnya dan dia berkata “aku kangen” karena sulit untuk membiarkan rasa ini pergi begitu saja, aku meluangkan waktu untuknya. Malam itu dia mengatakan ingin mengenalku lebih jauh lagi dan tahu bagaimana sikap aku yang sebenarnya. Dia begitu terbuka dengan aku, hingga dia menceritakan bagaimana keluarga dia dan hubungan asmara dia dengan wanita yang telah dipilihnya. Aku menghargai kejujuran dia namun memang tidak mungkin kami bersatu dengan prinsip keluarga yang berbeda. Aku sangat paham apa kemauan keluarga ku meski sebenarnya hal itu bisa dilewati asalkan kemauan pembuktian sesungguhnya kepada keluarga masing-masing yang kuat tapi kemauan yang aku miliki sepertinya tidak sekuat yang ia miliki sekarang. Aku bimbang kak….. Apa yang patut ku lakukan kak, senantiasa istiharoh illahi kak??

Sekarang anit telah menjadi seorang konsultan. Menurut buku psikologi yang pernah ia baca “seorang psikiater sejati ialah yang bisa menjadi konselor untuk dirinya sendiri”. Maka dari itulah anit berusaha dengan niat memanage hidupnya sendiri dibawah keridhoan illahi. Kejadian itu membuatnya untuk terus lebih mendekatkan diri kepada illahi agar konsistensi untuk terus menjomblo tetap terjaga meski ribuan terpaan rayuan dari para kaum Adam. Anit selalu berpikir cukup sekali hati ini hancur berkeping, tidak akan pernah ada lagi itu terjadi karena begitu sulit menggumpulkan puing yang telah retak. Hanya cinta kasih illahilah yang dapat menguatkan kita menjadi insan yang lebih tegar lagi. Sesungguhnya rezeki, jodoh dan maut hanyalah di tangan illahi.

Selaras dengan tetesan embun membasahi jendela bening kamar, seraya membasahi lelapan mata sayu ini. Ia terbuai, terbangun dari lelapan mimpi. Mimpi yang selama ini hanya bisa terwujudkan lewat khayalan angan-angan dari seorang gadis yang terlalu sering hidup di waktu senja. Ketahuilah,, anit merupakan gadis senja…

Setiap senja itu tiba, ia selalu menikmatinya bak penikmat kopi yang sesungguhnya, ia juga seorang penikmatsenja. Entah, berapa lama ia mampu bertahan berdiam diri menanti dan menikmati saat masa itu tiba. Terkadang kelihatan konyol tingkah yang terpancar ketika kedatangan senja. Aku hanya dapat menyeringai, menggelengkan kepala ketika itu terjadi.

Sudah menjadi ritual.
Senja itu menyenangkan.
Penuh dengan kedamaian.
Membawa keteduhan.

Bermain dengan senja kala itu, bagi anit merupakan waktu terindah dalam menggunakan hidup menelusuri dunia mimpi yang telah tertancap begitu dalam pada relung kalbu ini. Bak insan yang hidup dengan sejuta mimpi, ia dengan sabar menata kehidupan bermuara dalam lautan cinta yang dibawa hidup.

Terlahir sebagai seseorang yang trauma akan cinta masa lalu, beribu kejadian asa yang selalu terbayang lewat remang akal. Maka ku rajut kisah ini dari seorang mahasiswa tingkat akhir dengan kasihnya yang pada akhirnya tetap ta’aruf.

* * *

Mentari pagi yang mengintip lewat jendela kamar disebuah desa penuh dengan hiasan keindahan alam yang dimiliki menambahkan betapa indahnya dan besar karunia sang kuasa terhadap bumi semesta ciptaan_NYA.

Angin yang bertiup dengan lembut dari puncak laut serta burung-burung yang bernyanyi dan menari seolah menghadirkan sejuta cinta dalam jiwa.
Inilah mahakarya…..

>>> Pagi yang cerah ini anit mengawali kegiatannya dengan memandangi pesisiran pantai ibarat kloase kehidupan. Ia duduk diteras rumahnya dengan ditemani secangkir kopi. Disebrang jalan rumah anit terdapat sungai yang menjorok ke laut. Disitulah berjejer rapi kapal-kapal para nelayan yang sebagian diantaranya siap untuk melaju mengarungi laut lepas, mengais rezeki dipagi hari bersama tuannya yang terlihat begitu kokoh sebagai pelaut sejati.

Ada sebuah warung tenda aneka makanan dipadati oleh pengunjung. Cuaca syahdu membuat pengunjung bertambah ramai mendatangi kepulan asap dari panci lontong sayur, gado-gado, dan berbagai jenis makanan tradisional lainnya amat menggungah selera.

Sungguh anugrah sang kuasa bisa menikmati hadirnya kehidupan.

Anit laksana dewi yang tidak terbebani oleh guncangan kehidupan duniawi ini. Tetapi satu hal yang selalu ia sadari, ia selalu hidup dari mimpi, dan mimpi itu adalah wadah petualangan relung hati hingga pada akhirnya akan bermuara dalam sebuah titik puncak keberhasilan. Keberhasilan itulah kelak akan bermetamorfosa menjadi sebuah impian yang selama ini telah menanti diwujudkan.

Kehidupan anit saat ini, ia ibaratkan seperti kopi. Kalian pasti bertanya, kenapa kopi?? Bukankah kopi itu pahit? Ya, kopi itu memang pahit, tapi ketika kita mengkolaborasikan dengan gula akan menjadi kopi dengan rasa yang begitu nikmat, aroma yang sangat menggoda indra penciuman membuat masyarakat pada umumnya menyukainya termasuk dirinya. Meski disadari tersimpan dampak negatif dari kandungan kafeinnya. Begitulah Kehidupan anit sekarang, terasa begitu pahit, saat ku ketahui ternyata ia memutuskan pilihan hidup untuk mengais ilmu ditempat perantauan. Pilihan ini menuntut mengharuskan anit berani menghadapi hidup, harus bisa membiasakan hidup mandiri bahkan dari segala hal dan semua bidang mengharuskan untuk bisa melakukannya.

Anit terlahir sebagai gadis manja dalam keluarga hingga membuat hampir semua pekerjaan rumah tidak diijinkan untuk menyentuhnya. Anit merupakan putri tunggal dalam keluarga, itulah alasannya kenapa dalam keluarga ia sangat dimanjakan. Setelah menyelesaikan sekolah menengah pertamanya, adrenalin senantiasa memicu hipotalamus untuk mengubah semua kebiasaan menjadi lebih baik lagi. Hingga pada saat ini tidak terasa waktu berlalu bagaikan air yang terus mengalir seiring kematangan sifat pendewasaan pada dirinya, kini ia telah memasuki dunia perkuliahan dan hampir menyelesaikan studi. Kata orang sih “mahasiswa tingkat akhir itu merupakan puncak penentuan kejayaan kita”. Anit berusaha mewujudkan impiannya, membuktikan kepada keluarga bahwasanya ia akan kembali ketanah kelahiran dengan membawa kebanggaan.

*****

Saat semuanya bermula membuka hati kembali….

Senja waktu itu anit beserta temannya melaju dengan sebuah kendaraan menuju posko inti (sebutan yang mereka kenal saat itu). Saat ini anit tengah menjalankan tugas lapangan disalah satu desa yang ditunjuk oleh kampus sebagai syarat mahasiswa tingkat akhir. Sekali lagi ku katakan inilah anit, gadis yang lebih sering hidup dikala senja. Tepat waktu itu saat perjalanan pulang, kendaraan yang mereka kendarai mengalami sedikit kerusakan pada salah satu organnya. Setelah beberapa saat mereka berusaha mengoperasikannya sendiri, Tuhan maha penolong, secara tidak sengaja berhenti sosok pemuda desa tepat ditempat mereka berhenti. Dia begitu santun mengulurkan kebaikan. Hingga pada akhirnya kendaraan dapat beroperasi kembali dengan baik. Ucapan terimakasih tidak lupa mereka haturkan kepada sang pemuda. Anit seketika membatin “subhanalloh, ternyata dizaman era globalisasi dengan sarat kemajuan ilmu teknologi masih ada terselip pemuda yang santun serta ikhlas mengulurkan kebaikannya kepada kami tanpa ada maksud tertentu”. Rasa kagum tertaruhkan padanya, membuat seribu tanda tanya dibenaknya siapa pemuda itu? Dimana ia tinggal? Alangkah baiknya pemuda itu, sebagai sang peneliti, anit belum pernah menemukan pemuda seperti itu, akhlakul kharimah yang tinggi memicu adrenalin untuk mengetahui tentang beliau. Namun satu hal saat itu, kagum hanyalah sebuah rasa dan tidak akan pernah diwujudkan dalam suatu hubungan. Anit tidak ingin kejadian lama terulang kembali meski setiap individu itu berbeda, karena ia tidak ingin tertipu dengan psikis eksternal sang pemuda tanpa mengetahui bagaimana internalnya.

Aku tidak tahu bagaimana kehadirannya membuat batin anit terketuk. Dan mungkin akan membuatnya resah sepanjang perasaan yang terpendam. Sama tidak mengertinya saat ia memutuskan untuk kembali membuka hati.

Pada malam hari, disaat anit dan teman-teman lainnya tengah asyik menghitung data yang telah dikumpulkan bersama-sama, tanpa diduga mereka kedatangan tamu. Mereka merupakan aparat kepemudaan yang hendak bersosialisasi dengan mahasiswa kerja lapangan. Malam itu hadir ketua, sekretaris, bendahara kepemudaan serta ketua remaja masjid dusun mangkuang belayar (salah satu nama dusun desa tepat yang ditempati, terletak pada kutub selatan profinsi Jambi). Sekilas Alkisah mangkuang belayar berasal dari tumbuhan pandan, ketika air pasang ke ilir dan surut ke hulu, kemudian masyarakat setempat menganggap itu mistis tetapi sebenarnya bukan berasal dari air tersebut melainkan hanyalah anggapan itu sendiri. Yeah,, itulah kenapa daerah tersebut sangat kental menjaga adat istiadat mereka.

Alangkah takjub indra penglihatan anit saat melihat pemuda yang telah membuatnya kagum hadir pada waktu itu.

Dia???

Bukankah dia, sosok itu??

Waktu itu sama seperti anit biasanya, secepat kilat ia memasang wajah teduhnya seolah tidak ada penasaran dibenaknya. Dan ternyata beliau adalah sekretaris kepemudaan. Sedikit aku perkenalkan pemuda yang dikagumi anit sering dipanggil Lana. Perkenalan singkat malam itu selaksa menghadirkan peristiwa bak lisan tidak berhenti untuk semua pengenalan program kerja malam itu. Disadari memang, mereka berhak tahu karena walau bagaimanapun anit beserta lainnya tetap membutuhkan mereka disetiap kegiatan.

* * * *

Agenda kegiatan berikutnya..

Malam kedua,,, masuk pada kegiatan Penyuluhan Kesehatan Reproduksi (kesehatan reproduksi merupakan suatu ilmu teori dalam bidang kesehatan yang membahas seputaran masalah-masalah umum yang kerap terjadi pada usia pertengahan dewasa maupun dewasa) bersama remaja/i didusun tersebut. Seperti yang kita ketahui dalam suatu kegiatan tentulah setiap kelompok memiliki tugas masing-masing. Dan tanpa ada utusan sebelumnya tetap saja pada akhirnya anit sebagai pembawa acara dalam kegiatan tersebut. Anit memang salah seorang yang tidak suka berdebat dalam keadaan mendesak, maka sabar dan usaha selalu ia selaraskan sebagai pelurus solusi masalah.

Takjubnya anit, sosok pemuda itu kembali hadir.

Lana??

Mengapa selalu ada dia??

Tanpa ia duga sebelumnya lana sebagai pembukaan dari perwakilan remaja. Malam itu memang tidak disangka, anit hanya tetap bisa bertanya pada awang-awang kenapa ini bisa terjadi? Kenapa beliau melihat ku bak kucing?.
Anit sadar malam itu kornea dari seorang lana begitu tajam menatapnya, anit berpikir seolah dengan sengaja membuat ku canggung dalam setiap penyampaian sehingga membuat aku sedikit hipoksia dan sulit menyelaraskan suara ini agar tetap kokoh. Namun akh…. Anit tepis semua itu dengan sebuah senyuman dalam setiap penyampaiannya.

Seusainya acara, anit beserta rekan berpamitan untuk pulang. Menuju posko peristirahatan mereka. Tiba-tiba sosok pemuda itu menyapa mereka “hendak pulang mba??” gupp… Anit terperangah. Lima detik berlalu ganjil sekali. Menyeringai aneh. Maksudnya semuanya jelas sudah. Kenapa dia masih bertanya. Konyol. Lantas tak peduli beranjak pergi meninggalkannya. Hanya salah satu rekannya yang membalas sapaan lana.

“Anit!” salah satu rekannya berteriak parau. Berlari mendekati anit. Membuat orang-orang yang melihat mereka menyeringai sambil menelan ludah.

Adegan menarik. Mungkin sepanjang sisa malam nanti lebih dari layak menjadi bahan perbincangan mereka saat bertemu orang lain. “Drama” lima detik didepan rumah warga. Namun tidak seharusnya engkau seperti itu anit! Kami tahu engkau ingin menghindari percikan perasaan tapi apakah publik akan mengerti dengan maksud mu?? Tidak anit. Ingatlah kita ini milik publik. Dan publik tidak akan selamanya mengerti dengan apa yang terjadi pada kita. Timpal rekan-rekannya, karena sikapnya malam itu.

Menghela napas panjang, melirik pergelangan tangan. Sudah larut malam. Itu pertanda waktunya untuk berbaring mempersiapkan stamina untuk besok. Memandang semuanya. Mereka telah terlelap. Sepertinya mereka letih.
Sungguh malas menceritakan satu persatu kegiatan besok. Mungkin nanti anit akan bercerita satu-dua jika ada hubungannya dengan urusannya itu, itupun dengan syarat jika anit tidak sedang gundah olehkarena perasaan yang tidak menentu.
Teringat kisah kasih dalam diafragma lambat itu.

* * *

Malam berikutnya, rapat kecil di kediaman ketua pemuda. Dengan kondisi fisik agak tidak begitu sehat, anit tetap berusaha membawa langkah. Walau sedikit merasa malas berbicara malam itu namun keadaan tetap memaksa. Malam itu lana semakin melakukan sindiran halus terhadapnya. Sekilas seperti ini :

Him : “jangan terlalu serius bidan, santai aja”(Seraya melontarkan senyuman tepat dihadapan anit)

Ntah kenapa anit juga tidak tahu apa yang terjadi pada batin beliau yang aplikasi dari setiap sikap beliau terus menimbulkan seribu tanda tanya dibenak anit. Malam itu kami membahas mengenai acara perpisahan dengan dusun.

* * *

Hingga keesokan harinya beliau menelpon bapak pemilik rumah yang anit tempati beserta teman-teman lainnya. Beliau meminta salah satu nomor ponsel diantara mereka namun terlebih untuk ketua panitia acara. Batin anit “kenapa harus nelpon kesini sih??, kan banyak yang bisa dihubungi lagi lainnya.” Dan sialnya, “uhfff…. Aku sebagai ketua panitia saat itu. Yah,,,,, tidak ada jalan lain selain ikhlas beliau sebagai rekan kerja pada saat itu, hanya bisa rela aja”, karena ketua pemuda telah mempercayai beliau untuk mengurusnya bersama mahasiswa. Disaat itulah akhirnya membuat beliau selalu menghubungi anit. Namun anehnya beliau berkata pada anit “mungkin saya tidak bisa ikut berpartisipasi pada saat malam puncaknya karena saya ditugaskan diluar kota oleh pimpinan kerja”, dengan ucapan tersebut menjadikannya seolah beban dan jikalau harus mereka sebagai orang baru mengurus acara itu tanpa dipahami benar bagaimana kebudayaan masyarakat desa tersebut. Hingga malam harinya beliau menemui anit di kediamannya guna membicarakan masalah gabungan kepanitian acara. Sedikit yang anit ketahui, malam itu lana bak mencoba sedikit banyaknya mencari tentang anit. Sembari anit menjelaskan bagaimana dan siapa-siapa panitia acara, beliau selalu menanyakan tentang anit. Sekilas percakapannya seperti ini :

Him : asli orang apa mba?
Her : orang bugis, kenapa mas?
Him : tidak,,, kirain saya orang batak soalnya cara bicaranya mirip orang batak.
Her : (hanya tersenyum)
Timpalnya sesaat kemudian…
Him : saya pernah ke pulau kijang (salah satu tempat di kepulauan riau), dan kerja disana sebagai tenaga pengajar. Disana identik juga dengan orang bugis. Aga kareba? (Terjemahan apa kabar?)
Her : (tersenyum), ayah saya orang sana.

Sebelum beliau kembali menanyakan yang lain, anit dengan sigap mengarahkan kembali pada pembahasan awal, dan hasil kepanitian akhirnya terselesaikan. Hingga besok tinggal mengurus konsumsi serta penyebaran undangan.

* * *

Gajah kembali menggerayangi pelupuk mata membuat berat pelupuk untuk bangkit dari lelapan rebahan. Berusaha menorehkan semua indra untuk melawan cobaan pagi agar tetap bangkit sebagai kepribadian berdisiplin. Anit dengan tegas melangkahkan kaki menuju aliran air, membasuhi raut wajah yang setengah sembab hingga kembali bersujud pada sang kholiq sebagai pembuka awal rutinitas pagi yang cerah.

Hari ini tidak henti-hentinya lana menghubungi anit menanyakan bagaimana persiapan acara hingga kegiatan sang gadispun ditanya oleh beliau. Anit hanya membawa batin agar tetap berpikir positif dengan semua yang sedang terjadi dan bakalan terjadi. Bagi anit hari ini berlangsung sangat melelahkan karena raga yang dibawa harus bolak balik menuju pasar besar provinsi. Maklumlah tempat yang ditempati membutuhkan jarak yang lumayan untuk melajukan kendaraan hingga menuju pasar besar provinsi.

> Siang itu Tuhan berkehendak lain..
Saat anit beserta temannya ingin mencetak undangan yang akan disebarkan, saat itu pulalah benda kecil tempat penyimpanan data terdeteksi virus menyebabkan kerusakan pada system jaringan sehingga data tersebut tidak dapat dibuka. Hal ini mengharuskan melakukan pengetikan ulang, secepat kilat anit menjalankan jari jemari terpaku pada tombol huruf yang ada pada komputer. Sesaat kemudian undangan tersebut selesai, dengan langkah gontai segera anit dan temannya bergegas melajukan kendaraan menuju tempat peristirahatan tim mereka. Sesampainya mereka disana, alangkah miris rasa hati sesaat setelah anit memberikan undangan tersebut kepada salah satu pemuda utusan beliau, seketika itu pula undangan tersebut dikembalikan. “Kenapa mereka tidak menghargai hasil kerja kita sih?”celoteh salah satu teman anit dalam kondisi yang emosional. Terbawa dengan suasana emosi disertai rasa letih raga ini, mereka membakar undangan tersebut. Seusainya kemudian, mendadak raga anit sakit, karena tanpa diduga sebelumnya penyakit anit kambuh. Lagi-lagi hemoglobin darah ( sel darah putih dalam darah) turun, ia menggigil, badan panas, disertai dengan mual muntah akibat peningkatan asam lambung. Beberapa selimut tidak kuasa membendung rasa dingin yang terasa, hingga akhirnya satu tim memeluk raga anit erat. Mereka tidak henti-hentinya memberikan semangat agar psikis tidak turun drastis. Hingga ponsel milik anit sengaja dinonaktifkan agar bisa beristirahat tenang. Teringat betul ucapan mereka ‘fisik boleh turun menjadi lemah, namun psikis harus tetap kuat sebagai mental juara”. Tetap saja fisik tidak mampu untuk bangkit karena kadar hemoglobin mengalami penurunan hingga menyebabkan imunitas menurun pula.

Sesaat anit meminta kepada mereka agar mengaktifkan kembali ponsel tersebut mengingat tanggung jawab akan acara. Walau bagaimanapun tetap saja publik tidak akan mengerti bagaimana kondisi kita, mereka hanya ingin acara berlangsung sukses. Selang beberapa lama ponsel tersebut berdering, dengan masih dalam keadaan emosional salah satu anggota tim menerima panggilan tersebut, namun tetap saja lana hanya ingin berbicara dengan anit. Berusaha mengumpulkan segenap potensi yang ia punya hingga dapat menyatukan kembali raganya. Anit memintanya agar menjemput sebagian perlengkapan acara tersebut. Selang waktu beberapa menit setelah lana menelpon, beliau datang dengan temannya. Yeah.. Sebut saja nama temannya Ari, beliau merupakan ketua remaja masjid dusun tersebut. Namun alangkah miris rasa hati, mereka tidak membawa perlengkapan yang dipintai tolong, mereka hanya datang untuk berselisih paham. Ehm… Kita hanya bisa tabah guys,,, walau bagaimanapun kita adalah tamu disini, maka kita hanya bisa lapang dada. Semangat ya guys… Kita harus buktikan kepada tuan rumah desa ini, support anit pada teman-temannya. Membawa raga yang setengah terasa ingin terjatuh ia kuatkan langkah untuk menemui lana, meluruskan sedikit kesalahapahaman serta mengalahkan ego yang mereka punya demi suatu perdamaian hingga akhirnya acara dapat segera dimulai. Semua kembali bersatu meski anit mengakui antara raga dan perasaan yang mereka punya tidaklah sama dengan publik.

Acara berlangsung dengan hikmat…..

Selesainya acara tersebut teman-teman anit bergegas pulang. Sementara anit masih asyik berbicara dengan bendahara kepemudaan membahas pendanaan acara. Sesudahnya anit pamitan untuk pulang. Namun tidak mungkin rasanya harus pulang sendirian pada malam hari, dengan rasa terpaksa ia memberanikan diri meminjam kendaraan lana sembari meminta tolong kepada salah satu teman anit yang tidak satu tim untuk menghantarkan pulang. Beberapa candaan lana lontarkan sebelum akhirnya mengizinkan anit serta temannya membawa kendaraannya, namun tetap saja tidak banyak yang ia timpalkan dengan candaan pula.

Malam itu berakhir begitu saja dibenak anit, tapi tidak untuk lana. Bagi lana malam itu, beliau menyimpan asa yang tidak mampu diwujudkan dari diri seorang anit. Hingga larut malam, beliau meninggalkan panggilan tidak terjawab diponsel anit. Ia tidak tahu apa maksud beliau menghubungi sementara acara telah selesai dan bagi anit tidak ada lagi yang penting dibahas.

* * *

Tidak terasa matahari telah bertengker dipelupuk mata bak pertanda sang surya mulai bertugas. Bergegas anit kembali menguatkan langkah menuju tempat buliran-buliran air yang begitu syahdu. Sejenak tidak lupa dibangunkannya teman-teman yang lain karena sebelum acara penutupan pertanda selesainya tugas kerja, mereka berhak bergotong royong terlebih dahulu pada titik peristirahatan masing-masing tim. Satu hal yang terjadi tanpa ia duga, lana menelponnya seolah-olah ingin mengucapkan kata selamat tinggal pada tugas mereka yang entah kenapa anit juga tidak mengerti apa yang dirasakan beliau. Namun sebagai gadis belia yang meski pernah mengalami trauma, ia mencoba membuka hati terhadap beliau dengan niat menelaah seperti apa beliau tersebut. Dalam hal ini satu hal yang ingin ku katakan ” apapun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada disana, menunggu mu mengakui keberadaannya.” menjelang beberapa saat, acara penutupan akhirnya terlaksanakan. Harapan anit setelah tugas kerja ini selesai maka selesai pulalah rasa kagum terhadap pemuda yang biasa dipanggil lana itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *