Hypiwish

Senandung Ta’aruf “Love is Like Coffe” Part 5: Kilas Rangkuman Ta’aruf

Kilas Rangkuman Dasar Ta’aruf

Berikut ini saya rangkumkan beberapa prinsip ta’aruf yang bisa dijadikan pedoman dalam pelaksanaan ta’aruf, yang erat kaitannya dengan tema khitbah/lamaran dan tema pernikahan yang merupakan fase lanjutan setelah ta’aruf, serta interaksi antara laki-laki dan perempun dalam keseharian.

1. Ta’aruf Bagi yang Mampu Menikah

“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian mampu menikah maka menikalah! Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih dapat memelihara kemaluan. Dan barangsiapa tidak mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menjadi perisai bagi syahwatnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist diatas berisi anjuran untuk menyegerakan menikah bila memang sudah mampu menikah, sehingga tidak ada proses taaruf yang perlu dijalani bagi yang belum menikah. Bagi yang belum mampu menikah maka dianjurkan untuk banyak berpuasa, belum saatnya bertaaruf.

MAMPU menikah disini sama artinya dengan BISA menikah. BISA menikah bukan sekedar sudah SIAP menikah, tapi juga sudah BOLEH menikah. Sudah siap menikah, tapi belum boleh menikah tentunya proses taaruf belum perlu dijalani. Ada wali bagi seorang perempuan yang perlu dimintakan izinnya untuk menikahkan si anak perempuan, demikian juga restu dari orangtua bagi seorang laki-laki yang perlu diikhtiarkan meskipun tidak ada wali bagi seorang laki-laki.

Pastikan izin dan restu menikah sudah didapat dari wali/orangtua sebelum berikhtiar taaruf, selain kesiapan menikah yang sudah anda yakini. Pastikan juga bahwa izin menikah ini adalah ‘izin menikah segera’ setelah bertemu calon pasangan yang cocok, bukan izin menikah setelah nanti lulus kuliah atau izin menikah setelah nanti pekerjaannya mapan yang jangka waktunya sekian tahun kedepan.

Dari pengalaman mendampingi beberapa proses taaruf, prosesnya cukup dijalani selama 2-3 bulan saja, itupun hampir semuanya belum pernah saling kenal sama sekali. Kalau si target taaruf itu tetangga sendiri, rekan kerja, atau sahabat satu komunitas yang sudah lama dikenal tentunya perlu waktu taaruf yang lebih singkat lagi.

Dari perkiraan masa taaruf ditambah masa persiapan pernikahan, bisa ditarik mundur kapan sekiranya waktu yang anda pilih untuk mulai berikhtiar taaruf. Mungkin cukup dikisaran 6 bulanan saja, tidak lebih dari satu tahun. Kalau lebih dari satu tahun kedepan sebaiknya nanti-nanti saja anda mulai berikhtiar taaruf, isi hari-hari anda dengan memperbanyak ibadah khususnya berpuasa untuk lebih membentengi diri dari angan-angan yang belum saatnya.

Bila anda belum siap namun ingin ‘belajar taaruf agar bila tiba saatnya nanti sudah siap, anda bisa ‘berguru’ pada saudara atau rekan terdekat yang pernah menjalani proses taaruf sebelumnya. Bisa juga dengan mengambil referensi artikel-artikel seputar taaruf yang cukup banyak beredar dari beberapa pakar dan spesialis taaruf. Anda juga bisa ikut seminar pranikah dan kuliah pranikah yang diadakan lembaga islam yang terpercaya untuk persiapan taaruf. InsyaAllah hal-hal tersebut bisa menjadi pembelajaran anda seputar pertaarufan, tanpa harus menjadi pelaku taaruf terlebih dulu.

2. Kriteria Agama dan Akhlak dalam Pertimbangan Taaruf

“… Wanita yang baik untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula…” (QS. An Nur : 26)

“Wanita itu dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, atau agamanya. Pilihlah berdasarkan agamanya agar selamat dirimu”. (HR. Bukhari – Muslim)

” Bila seorang laki-laki yang kau ridhai agama dan akhlaknya meminang anak perempuan mu, nikahkanlah dia. …. (HR. Tirmidzi)

Dalam pencarian sosok yang dijadikan target taaruf, kriteria agama menjadi syarat utama yang tidak bisa diganggu gugat. Kriteria lain boleh macam-macam sesuai selera, namun terkait agama haruslah yang baik agamanya. Baik agamanya bisa dilihat dari dia yang seorang Muslim/Muslimah, tidak meninggalkan ibadah wajibnya, memiliki akhlak yang baik, serta memiliki semangat untuk terus berubah menjadi baik.

Dengan kriteria agama yang baik, pastinya ikhtiar taaruf akan menjadi pilihan sosok tersebut dibanding aktivitas pacaran. Lalu, bagaimana kalau sudah ‘terlanjur’ pacaran?

Lakukan hal ini : segera putuskan hubungan, sama-sama beristighfar, memohon ampun dan menyesali aktivitas pacaran yang telah dijalani, kemudian beralihlah keproses taaruf yang islami.

3. Proses Taaruf Bersifat Rahasia

“Rahasiakan pinangan, umumkanlah pernikahan (HR. Ath Thabrani)

Berbeda dengan pernikahan yang dianjurkan untuk disebarluaskan, pinangan atau lamaran pernikahan justru dianjurkan untuk dirahasiakan. Bila pinangan perlu dirahasiakan, tentu proses taaruf yang mendahului pinangan tersebut juga perlu dirahasiakan.

Jadi tidak perlu update status di Facebook bahwa anda sedang menjalani proses taaruf dengan seseorang yang anda tag namanya, atau pasang status engaged pasca lamaran, juga tidak perlu saling mention di Twitter untuk menunjukkan bahwa anda sedang taarufan dengan nama-nama yang di-mention.

Publikasikanlah nanti bila hari H pernikahan anda sudah dekat dalam bentuk undangan pernikahan.

4. Adanya Orang Ketiga dalam Taaruf

“Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan wanita, karena setan akan menjadi ketiganya” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Tidak ada proses taaruf yang dijalani berduaan saja antara pihak yang bertaaruf, perlu pelibatan pihak ketiga untuk mendampingi proses sehingga menutup celah setan menjadi ketiganya. Pihak ketiga ini bukan berarti seorang saja, tapi bisa juga saudara atau beberapa orang terdekat yang anda percayai untuk mendampingi selama proses taaruf anda jalani. Dengan demikian tidak ada jalan berduaan, makan berduaan, boncengan motor berduaan, naik mobil berduaan, dan kegiatan berduaan lainnya dalam aktivitas taaruf. Harus ada orang ketiga untuk mencengah ‘khilaf’ yang bisa terjadi karena aktivitas berduaan tersebut.

Demikian juga dalam komunikasi jarak jauh lewat telepon, SMS, atau fasilitas chat menggunakan Facebook, Whatsapp, atau BBM. Meskipun tidak berdekatan secara fisik namun perlu diingat bahwa aktivitas zina ada macam-macam, tidak hanya zina fisik tetapi ada juga zina hati dalam bentuk angan-angan, khayalan, dan ungkapan mesra yang belum saatnya diberikan. Bila hati susah dijaga, libatkan orang ketiga dalam komunikasi jarak jauh ini untuk menghindari zina hati.

Salah satu cara yang bisa dicoba dan pernah juga saya lakukan adalah membuat grup Facebook untuk memfasilitasi komunikasi pihak yang bertaaruf, dan meminta kedua pihak yang bertaaruf memblok nomor masing-masing sehingga tidak ada peluang komunikasi secara langsung. Tema obrolan juga perlu diarahkan seputar hal-hal yang memang perlu dikomunikasikan dalam proses taaruf. Bila yang ingin disampaikan cukup panjang, bisa memanfaatkan fasilitas email mediator terpercaya untuk menyampaikan. Apa saja yang ingin diketahui atau disampaikan selama proses taaruf tinggal diemail ke mediator, dan mediator akan meneruskannya ke email pihak yang lain.

Dengan adanya orang ketiga yang memerantarai komunikasi, maka kalimat dan ungkapan ‘romantisme pranikah’ yang belum saatnya diberikan bisa dihindari karena ada pihak yang mengawasi dan menyaring hal-hal yang dikomunikasikan selama bertaaruf.

5. Aktivitas Nazhar/Melihat Pihak yang Bertaaruf

Dari Al-Mughiroh bin Syu’bah r.a bahwasanya beliau akan melamar seorang wanita maka Nabi Muhammad pun berkata kepadanya “lihatlah ia (wanita yang kau lamar tersebut) karena hal itu akan lebih menimbulkan kasih sayang dan kedekatan diantara kalian berdua.”(HR. Bukhari Muslim)

Kemajuan teknologi informasi berdampak pada semakin maraknya media sosial di dunia maya. Tidak sedikit orang iseng yang menggunakan profil palsu yang tidak menggambarkan profil diri sebenarnya. Ajakan taaruf pun bisa saja disampaikan sosok palsu tersebut dengan tujuan penipuan, atau sekadar iseng. Dengan adanya aktivitas nazhar ini, kondisi fisik masing-masing pihak yang bertaaruf dapat diketahui dengan jelas.

Sosok yang dikenal di dunia maya bisa dibuktikan keberadaannya dengan aktivitas nazhar ini, bukan sekedar sosok yang punya nama namun tanpa rupa. Berkaitan juga dengan landasan dinomer empat, libatkanlah orang ketiga dalam aktivitas nazhar ini untuk menghindari modus penipuan dan keisengan dari orang asing yang dikenal di dunia maya.

Yakinlah akhi/ukhti, Tuhanlah yang menciptakan cinta. Cinta bisa datang kapan saja, dimana saja, siapa saja sesuai yang Tuhan kehendaki, semua atas takdir-Nya. Saya hanya bisa berkata “ketika cinta menyelimuti mu, kembalikanlah kepada pemilik cinta yaitu Tuhan, dan ketika ada seseorang yang ingin meminang mu atas dasar islam, maka berkatalah kepadanya ” silahkan izin dengan Tuhan, karena AKU milik-Nya”.
Demikianlah lima prinsip taaruf yang dijadikan pedoman dalam aktivitas taaruf, semoga bermanfaat dan memberikan pencerahan. Semoga keberkahan menyertai proses taaruf hingga pernikahan yang telah anda ikhtiarkan syar’i sesuai dengan landasan Al Quran dan Hadist tersebut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *