Hypiwish

Senandung Ta’aruf “Love is Like Coffe” Part 2

Part 2

Kembali ke kampus…………

Ucapan tersebut sebagai rasa rindu pada gedung hijau, walau ia dijuluki sebagai penjara suci ketahuilah ditempat inilah anit telah menuliskan keluh dan kesahnya. Gedung ini terbangun tinggi menjulang dengan warna menyejukkan menyatu dengan alam yakni hijau. Didepan gedung ini berbaris sederetan fasilitas seperti fotokopian, warnet, organizer wedding, bengkel, kedai-kedai makanan ringan bahkan toko bangunan ikut meramaikan. Jika kita keluar dari gedung ini maka fasilitas itulah yang senantiasa menyambut.

Hanya menjelang berapa lama saja, tanpa ada firasat tertentu. Lana kembali menghubungi anit. Tepatnya pada saat anit serta teman-teman lainnya telah sampai di kampus tercinta. Rasa bingung yang terpendam terus mengalir begitu saja menambah rasa penasaran yang semakin mendalam terhadap beliau. Inilah anit hadir sebagai peneliti.

Ada seorang motivator pernah berkata pada ku : ” cinta dan maaf tidak dapat dibeli dengan kata-kata”. Yeah… Seperti yang kukatakan sebelumnya cinta akan tetap berada pada peraduannya meski dengan sekuat tenaga engkau berusaha melawan rasa itu. Namun satu hal yang perlu kita ingat, jangan pernah memudarkan rasa cinta mu kepada Tuhan, sang pencipta cinta serta orangtua mu. Bagaimanapun sikap dan sifat orangtua mu, tetaplah kuatkan cinta mu pada mereka. Begitu pula dengan anit sekarang, karena rasa penasaran yang terpendam untuk beliau mengalir begitu saja. Maka anit membiarkan rasa itu tetap hadir. Lagi pula, ia pernah berkata haruskah cinta itu selalu diungkapkan dengan kata? ‘ tegasnya pada anit, Saat anit bertanya kenapa ada rasa yang aneh pada dirinya.

>>>> Seiring berjalannya waktu kedekatan komunikasi antara mereka semakin bertambah. Sehingga sedikit banyak yang anit ketahui mengenai beliau. Hingga detik ini yang terbaca dari beliau adalah seorang insan yang sangat menjaga nama baik serta kesopanan dalam berbudaya, aktif bermasyarakat, memiliki bekal yang cukup bagi anit saat itu sebagai pemimpin serta berpengetahuan dan wawasan luas. “Yeah,,,, dikarenakan secara usia jauh daripadaku, jadi lebih dulu makan garam kehidupan deh…” pikir anit saat itu. Ia rasakan perubahan pada dirinya saat itu, yang entah kenapa ia seolah mendapat wawasan nan luas dari beliau. Namun yang disayangkan, saat beliau mengetahui bahwasanya yang membalas pesan pendek beliau pada seluler anit waktu itu adalah bukan anit, melainkan teman anit sendiri. Tria. Karena anit sendirilah yang memintanya membalas pesan pendek tersebut. Kehidupan anit dengan teman-teman memang penuh keterbukaan. Makanya anit membiarkan hal itu, namun tidak bagi beliau. Tidak semua hal yang harus mereka tahu” itulah pesan tersurat darinya. Seperti dikatakan sebelumnya, lana memang sangat menjaga nama baik. Bermula dari kejadian itulah beliau tidak pernah menghubungi anit terlebih dulu. Salah satu etiologi membuatnya hampir menyerah untuk melanjutkan penelitian.

Hingga detik saat ini, saat dimana ia memulai untuk hijrah akan dirinya sendiri, beliau tiba-tiba hadir. Sesungguhnya tanpa lana ketahui anit hanya menyimpan asa yang ia punya untuk beliau. Sejujurnya diakui, disetiap sembah sujud anit pada illahi ia selalu mendoakan “jikalau memang beliau pemilik tulang rusuk ini aku hanya ingin Tuhan melindungi beliau dalam dekapan illahi”. Anit juga tidak bisa untuk memaksakan kehendak hati untuk terus menghubungi beliau terlebih dahulu. Anit tidak mampu untuk menaruh pengharapan yang berlebih untuk beliau. Anit tidak ingin egois dalam hubungan. Ia sangat menghargai beliau termasuk pekerjaan beliau, itulah kenapa ia tidak akan menyita waktu beliau terlalu banyak. Anit berusaha mengerti dengan semua alasan yang dilontarkan beliau namun ia juga tidak bisa membohongi rasa. Lalu saat beliau berkata, aku mencintaimu. Anit merasa senja tidak lagi membawa cerita bahagia, mungkinkah kata-katanya itu ambigu? Atau aku saja yang menganggapnya terlalu saru? Terngiang satu ayat:

Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. (QS. Al-hujurat : 13)

* * *

Selama ini anit hanya selalu mengungkapkan rasa hati melalui jejaring sosial yang ia ungkapkan dengan perumpamaan. Karena ia tahu lana tidak memiliki jejaring sosial, maka tidak selamanya ia akan mengungkapkan apa yang dirasakan terhadap beliau. Saat ini ia hanya ingin mengetahui respon terhadap beliau, apakah beliau masih memiliki rasa yang sama terhadapnya. Anit hanya bisa berkata “hanya rasa yang bisa merasakan rasa”. Saat ini hanya sindiran yang bakalan hadir terhadap beliau, karena kini rasa tidak seperti dulu lagi. Rasa yang hadir kini adalah rasa letih terhadap beliau. Rasa sayang terhadap beliau akan tetap tersimpan dalam batin. Tuhanlah yang maha tahu segalanya. ” kepercayaan yang kokoh terhadap kuasa Mu akan memperkuat batin ini dengan segala cobaan Mu Tuhan, tetapkan beliau dalam dekapan kasih Mu” hanya inilah yang bisa anit torehkan terhadap beliau. Layaknya yang telah diriwayatkan Anas r.a. “tidaklah beriman salah seorang diantara kalian sampai dia menjadikan aku lebih dicintainya daripada anak, orangtua, dan seluruh umat manusia” (HR. Al- Bukhari dan muslim)

* * *

Senandung kasih subuh tepat pada tanggal 12 juli setelah kembali beraktifitas dipenjara suci menghantarkan kembali ingatan pada beliau. Masih terngiang diingatan anit sesaat setelah ia serahkan sujud pada illahi, beliau menelpon anit meski hanya menanyakan keberadaannya sekarang serta pintanya agar anit lebih berhati-hati selama berada ditempat ini. Ungkapan itu merupakan rasa syukur tertentu yang muncul dalam batin.

Tanpa ia sadari dan diduga, seseorang yang terlihat begitu anggun bak cendrawasih dengan segala kelebihan yang terpancar namun tetap kembali layaknya insan hamba sahaja. Ternyata seorang yang telah anit anggap ustad, beliau memiliki ide-ide gila juga. Cekikikan batin ini tertawa bak lana kembali ingin menyinari rasa yang telah pudar. Rasa kecewa seolah-olah hadir ditengah cekikikan batin itu, saat beliau membicarakan dengan serius hal yang konyol bagi beliau, namun itu adalah dosa besar jikalau tidak adanya keteguhan iman membentengi. Anit juga tidak tahu apa alasan beliau sampai berani mengutarakan ini padanya. Sedikit anit hanya menanyakan “apa ada masalah dengan mu?, jawabannya simpel “iya” dan saat ia ingin memberikan sedikit masukan pada lana, beliau meminta anit untuk tidak memberikan masukan. Anit mengerti perasaan beliau, karena bagi sebagian individu ketika mereka dilanda permasalahan duniawi, mereka hanya butuh hiburan, bukan masukan etiologi yang pada akhirnya terjadi peningkatan sikologis pada individu. Hanya satu hal yang bisa anit ungkapkan jikalau memang itu membuat jiwa mu resah, serta mulai menghujam jantung mu, maka berserah dirilah, lafadzkan novel Tuhan nan maha dahsyat, niatkan, jangan pernah ada lagi konflik batin. Percayalah rencana Tuhan lebih indah, lana. Sesaat setelahnya, anit menambahkan kepada beliau “kamu bukan anak kecil lagi kan?, pasti telah mengetahui apa dampak dari setiap perbuatan. Anit mengiyakan permintaan beliau bukan berarti ia tidak peduli, namun ia tidak ingin perang mulut dengan beliau karena rasa sayang selalu ditorehkan untuk beliau membuatnya menghadirkan kelembutan. Seperti yang dipelajari sifat dari hujan :

Aku cintai hujan sebab itu rahmat
Maka aku cintai kelembutan
Kelembutan yang dijatuhkan langit atau ditumbuhkan bumi.
Aku cintai yang mencintai hujan

Dengan caraku dan menyimpannya didalam mendung,
Mungkin sebab itu, disetiap mendung
Aku melihat tantangan selalu meneduhkan.

Referensi sajak itulah yang menimbulkan begitu banyak pelajaran yang dipetik. Namun satu hal yang tidak beliau ketahui tentang anit, bahwasanya ia adalah si otak picik yang mengiyakan permintaan seseorang namun sembari mengarahkannya ke hal-hal positif.

Pikirnya saat itu hanya satu, mungkin beliau ingin menguji keimanannya. Lana selalu mengajarinya untuk berpikir positif dan mencintai keteduhan. Hal itu pulalah yang menjadikan kedewasaan diri timbul pada diri gadis manja hingga hampir menyetarai beliau secara kepribadian. Anit mencintai beliau karena hubungan beliau kepada sang pencipta begitu dekat, beliau tidak ingin membahas suatu permasalahan dalam keadaan amarah. Itulah yang disebut dengan keteduhan. Begitu banyak ilmu yang ditorehkan lana kepada anit, tapi entah kenapa bisa terlontar dari bibir beliau akan syahwat setan. “Sesungguhnya nafsu itu senantiasa mengajak kepada keburukan, kecuali yang dirahmati Rabb-Ku”. (QS Yusuf [12] : 53). Anit menyayangi beliau karena Tuhan bukan karena berbagai apa yang ditawarkannya.

* * *

Hari ini, sekian kalinya anit mengukir apa yang dirasakannya. Ketahuilah sekarang beliau sedang sakit dan jikalau memang tidak ada perkembangan kesehatan maka akan dilakukan operasi pada bolamatanya dihari jumat tanggal 1agustus 2014. “Namun aku hanya mengirimkan doa untuk mu tanpa bisa mendampingi mu disaat menjalani ujian kehidupan mu”, itulah pesan singkat dari hati seorang anit untuk lana. Karena anit sadar bahwasanya salah satu prinsip dari taaruf, kita tidak mesti mengirim pesan singkat yang berlebihan dan belum waktu yang tepat. Anit memang telah berniat taaruf dengan beliau. Maka dari itu, anit selalu menjaga prinsipnya. Anit tidak ingin semua sesuatu berlebihan.

Beliau berprinsip, hidup itu adalah perjuangan maka itulah beliau tidak akan pernah mengeluh dengan segala ujian yang dijalaninya. Asa yang selalu berbicara, hanya lantunan doalah dapat ia persembahkan pada beliau tanpa harus berada disisinya. Anit tidak dapat menentang peraturan keluarga dan tidak mungkin baginya lisan ini melakukan kebohongan, namun anit berharap kali ini jikalau memang benar itu kenyataan yang bakalan terjadi, akan tetap anit lawan segala ara demi ketentraman jiwa yang mencekam. Ada sebuah kutipan “memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga daripada mendapat perak (ams. 16 : 16). Meski kutipan itu bersumberkan dari sebuah kitab non islam, namun kutipan bait itu sangat melekat diingatan anit.

Menunggu dengan sebuah asa yang menekam jiwa, anit terus menanti perkembangan kesehatan beliau dari jarak jauh demi usaha menebis gibah masyarakat serta menjaga kesahihan niat taaruf mereka. Satu pengharapan yang senantiasa lahir agar dokter mengatakan tidak harusnya dilakukan tindakan operatif pada bolamatanya. Pemantauan kesehatanlah yang terpenting dilakukan, tetapi ternyata alhasil tetap dilakukannya tindakan operatif. Begitulah hari-hari selanjutnya beliau jalani dengan perban sebelah mata.

>> Setelah 1 minggu, alhamdulillah perban mata dibuka. Melihat kembali dunia dan seisinya seperti sebelumnya serta menata akhlakul kharimah itulah harapan dari seorang insan termasuk anit. Jujur anit mengakui hati ini sedikit kecewa karena izin untuk silaturahmi ke kediaman beliau tidak terpenuhi hanya takut menimbulkan gibah terhadap warga setempat. Sedikit ku katakan aku pernah menaruh simpati pada insan lain selain beliau namun tetap saja hati hanya tetap pada hati, mungkin karena hati telah memilih beliau sebagai pemilik hati ini, membuatku tidak bisa membuka hati kepada insan lain. Dan karena jiwa yang kontenporer ini membuat terkadang keluhan itu senantiasa muncul. Berkecamuk dalam relung yang labil.
>>>>> Beberapa pekan terakhir ini beliau selalu menanyakan kapan anit pulang ke negeri rantau lagi? Namun timpalan yang dibalaskan anit hanya rangkaian candaan berasal dari bibir kecil ini. Sesungguhnya setiap kloase kejadian yang bakalan terjadi semua atas berkat rahmat dan kuasa Nya (QS Yasin [36] : 83).

Sengaja anit memilih untuk beberapa bulan berada pada jantung keluarga. Anit telah lama tidak merasakan masa-masa berkumpul dengan keluarga. Pernah suatu ketika, saat anit tengah asyik melangkahkan kaki dengan gontai menuju rumah neneknya, ada seorang bapak parubaya berkata ” orang yang rindu dengan kampung halamannya berarti orang tersebut merasa memiliki tanggung jawab terhadap rumahnya, merasa peduli dengan semua penghuni rumahnya”. Maka anit memutuskan untuk sejenak berbincang-bincang dengan bapak parubaya tersebut. Begitu banyak pengalaman hidup terpancar dari suara bapak tersebut. Sesaat setelah mengakhiri perbincangan itu, anit dengan sigap melajukan energi bergegas ke rumah nenek.

Seketika membekukan suasana, berada dikeluarga yang tidak pernah kita temui ibarat berada pada keluarga asing. Inilah anit yang hidup dilingkungan baru.”Tapi itu ah….. Hanya perasaan ku saja oleh asa yang terpendam kini baru berani ku wujudkan lewat aplikasi nyata”. Diakui memang, hingga januari ini masih anit pergunakan khusus waktu kunjungan keluarga besar. Baik itu dari ayah maupun bunda. Tapi sejauh ini, sebagian besar baru dari ayah. Yah,,, ntah kapan untuk keluarga bunda. Selagi tuhan masih bersama hambaNya akan ada jalan untuk itu. Jalani apa yang telah kamu mulai, karena hidup itu pilihan, maka melangkahlah dengan gagah dan hadapilah dengan bijak. Ingat satu pesan yang tertinggal pada kunjungan ini follow your prophet, so find your true love.

Baca Juga: 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *