Hypiwish

Senandung Ta’aruf “Love is Like Coffe” Part 04

Part 4

Fiosofi kasih asmaranya yang bercengkram melahirkan sebuah ketegaran dalam jiwa seorang anit. Kisah kasih yang berakhir dengan taaruf, ternyata kini ia dan lana telah memilih hijrah dari kehidupan mereka sebelumnya. Kini mereka berkomitmen untuk fokus pada rutinitas masing-masing menata kehidupan lebih baik dihadapan Allah dan hambaNya.

Pertemuan iseng ku dengan anit kala itu.
Anit : kak, ia lebih memilih kasih yang lain
Maeblapo :do less the more, dear.. May be ujian dalam taaruf kalian
Anit : may be kak, but I will try for that. Menyakinkan hati bahwasanya hanya kasih illahi lah yang akan abadi.
Maeblapo :Must that, spirit dear…

Hari-hari berikutnya bersama senandung taaruf illahi, ia mengatakan yang sebenarnya terhadap lana.
“mas, engkau bukan tandingan Tuhan yang bisa disandingkan dengan_Nya, namun satu hal jika memang hati telah memilih kasih yang lain silahkan ikuti kata hati mu, tunaikan niat hati mu, mas.”
Lana : kamu tau darimana? maafkan aku, jika menimbulkan keretakan dalam batin mu.
Anit : aku, sangat ikhlas bila engkau mengikuti kata hati.

Percakapan singkat yang berakhir begitu saja, menjadi pilihan hijrah mereka. Anit telah mengikhlaskan lana untuk mengikuti kata hatinya. Bahkan anit telah mengetahui terlebih dahulu akan perasaan lana semenjak pertemuan anit, isna dan dia dalam moment “hunting belgia ” beberapa pekan lalu.Kala itu, anit bermukim dikediaman isna. Menimbang jarak tempuh menuju tempat kerja lebih dekat. Ketika ada acara tersebut, anit memutuskan untuk melajukan kendaraan bersama isna, sahabat senjanya. Dan tema kala itu”Background of senja”, serta photograph pada waktu itu yah… Lana. Hati dan perasaan tidak dapat berbohong lewat pancaran indra penglihatan. Seberapa besar usaha kita untuk menyembunyikannya, namun yang namanya kebohongan tetap dikalahkan oleh kejujuran. Kebohongan memang dapat menyelamatkan kita sementara, namun kejujuran sepanjang hanyat kita. Teringat satu filsafah pertolongan Tuhan terhadap hambaNya yang bertakwa bahwasanya “mereka yang mengalahkan musuh-musuh mereka dan musuh-musuh itu tidak pernah mengalahkan mereka meskipun hanya satu kali” (QS. As-saffat : 114-116). Pada saat itu berkenaan dengan kenabian Musa maka diturunkanlah ayat tersebut. Begitu pulalah dengan perasaan dari hati kita, meski kita telah berusaha mengalahkannya, namun tetap tidak dapat kita kalahkan karena perasaan adalah manusiawi dari sang pencipta.

* * *

Senja waktu itu, saat kami tengah asyik photograph, lana dengan secara sengaja memperlihatkan perasaan terhadap isna, sahabat senja anit. Anit yang menghargai mereka, tetap membiarkan mereka dengan keasyikan cengkrama mereka.Selesai acara, tetap saja lana seolah menganggap tidak adanya keberadaan anit pada saat itu. Anit sang gadis santun, menghormati setiap insan, berusaha untuk tetap tegar walau saat itu anit mengakui sulit menyeimbangkan rasa yang terpendam. Namun demi sebuah konsistensi terhadap suatu agent, maka anit tetap berusaha untuk profesional.

>>>hari berlalu terasa ganjil, setelah anit kembali ke rutinitas sebagaimana biasanya. Seketika anit membatin “aku harus bisa tanpa mereka”. Maka dengan tegas, anit menghubungi beberapa rekan-rekannya tak lupa lana dan isna. Mereka bertemu di suatu tempat. Disaat itulah anit mengungkapkan apa yang ia ketahui terhadap seorang lana.

Anit : “Isna, engkau pernah memintaku untuk mencarikan pasangan taaruf, maka kini ia telah hadir diantara kita.”
Tanpa sempat isna membalas ungkapan kata anit. Anit menyambungkan kembali “tolong hargai keputusan isna, aku tau gimana perasaan dia terhadap mu dan kelak kamu juga akan tau”.
Sesaat setelah anit mengungkapkan kepada isna beserta rekan-rekan kampus, mereka berpamitan pulang. Tidak lupa bagi anit, berpamitan pada lana sembari berbisik “Tolong, taaruf dengan isna”. Kemudian anit dan rekannya berlalu pergi meninggalkan lana. Satu hal yang dapat ku katakan “Cinta sejati adalah cinta yang membiarkan kasihnya bersama kasih pilihan hatinya”.

***

Senja nan syahdu, seperti biasanya anit yang tengah asyik berteman pada benda runcing kecil digoreskan ke kertas putih, merangkai bait demi bait membentuk sebuah syair hingga tercipta susunan kata seperti ini :

Senja itu, kau datang
Datang bersama kasih mesra mu
Tiada ku duga, tiada ku sangka
Hatiku sudah terikat pada mu
Betapa mesra disaat itu
Kasih bersemi di senja itu
Tapi….
Kini….
Hanyalah kenangan
Hilang bersama malam yang gelap
Mungkin ada benarnya, inilah kasih tak sampai
Kita dipertemukan saat senja
Maka kita dipisahkan dalam hal yang sama pula
Kasih……
Ku tahu, ini semua rencana Allah
Ada kalanya ku harus mengalahkan ego batinku
Engkau tak seindah dulu
Jadi…
Biarlah aku pergi bersama asa yang bersemayam

>> Sajak itu sengaja ia dedikasikan sebagai ungkapan good bye to senja. Seperti syairnya, senja yang mempertemukan, senja pula yang mengakhiri. Anit bertemu pertama kali dengan lana pada saat senja dan memulai hijrah juga pada saat senja.

Seketika itu, segerombolan insan memecahkan kesunyian, meleburkan bait, mengkepingkan kata demi kata, menghaluskan senyuman untuk menyambut segerombolan tersebut yang berhenti tepat dihadapan anit. Sekejap membekukan suasana. Perlahan mencairkan sapaan demi sapaan untuk anit. Dengan pembawaan semberinga, anit membalas sapaan segerombolan tersebut. Ketahuilah akhwan wa ikhwan, segerombolan itu adalah lana beserta keluarganya. Anit saat itu, hanya menduga kedatangan mereka sekedar silaturahmi saja. Tanpa berpikir sebelumnya, darimana lana mengetahui alamat rumah anit dikampung halaman?, anit dengan sigap mempersilahkan mereka masuk sembari kemudian memanggil ayah dan ibunya sebelum anit melangkah untuk menyiapkan makanan-makanan kecil untuk disuguhkan. Usainya penyuguhan sederhana, keluarga lana meminta anit untuk bergabung “Inilah saatnya anak saya jujur padamu, nak” lirih ibu lana.

Sejenak mendebarkan suasana.
Bungkaman lana membuat suasana hati anit semakin berdebar
Kembalilah hening sejenak

“ayo toh mas, pinta keluarga lana. “baiklah bu” lana mulai mengeluarkan suara sendunya.
Lana : sebenarnya saya tidak taaruf dengan isna. Saya sengaja melibatkan orang ketiga dalam taaruf. Karna Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan wanita, karena setan akan menjadi ketiganya” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).Dan mungkin, kamu pasti bertanya dari mana kami tahu alamat kampung ini. Kami tahu dari isna, mbak anit. 

Anit hanya termangu mendengarkan kejujuran lana.
Sesaat kemudian, sang ayah anit yang humoris memecahkan ketegangan suasana. Akhirnya keluarga lana menyampaikan maksud kedatangan mereka.

Maka percakapan berlangsung hikmah.

Dan pada akhirnya didapatlah kesepakatan antara dua belah pihak keluarga menuju keislamian pengakhiran dalam proses taaruf.

Beberapa bulan kembali menjalani rutinitas setelah kesepakatan antara keluarga itu terjadi. Inilah saat mereka mengucapkan janji keislamian menunaikan ibadah sunahtullah. Digelarlah karpet biru menuju hidup yang baru dipenuhi cahaya islami. Ternyata selama ini lana hanya menguji keislamian anit. “engkau berhasil lana, melibatkan saya dalam teka-teki islam lewat semua petuah- petuahmu.”
Abu hurairah r.a mengatakan bahwa rasullullah saw bersabda, “segala urusan yang memeras perhatian dan tidak dimulai dengan ucapan “bismillah akan terputus (Q.S Yasin:35)

Melalui kisah ini satu hal yang dapat ku katakan “jangan pernah hanyut dalam perasaan mu sendiri hingga memudarkan pencitraan niat islami pada dirimu, berpegang teguhlah pada syariat-syariat sesuai kitabullah”.

* * *

Terimakasih lana telah hadir sebagai gula yang mampu mengubah rasa kopi menjadi begitu manis karena kehadiran mu. Engkau adalah gula satu-satunya yang bisa mengubah secangkir kopi menjadi semangkuk cinta, kata itulah sebagai ukiran kasihnya pada sosok kaum adam. Meski sebelumnya terasa begitu sulit bagi anit untuk menghadirkan rasa kembali. Semangkuk cinta yang mereka miliki sekarang akan tetap mereka jaga agar tidak retak hingga masih terus bersifat menjadi mangkuk. Walau itu dulunya hanya berwujud mangkuk kecil namun lambat laun akan bermetamorfosa menjadi mangkuk yang lebih besar lagi dengan dihiasi cahaya islami cinta. Cahaya islami yang merupakan kilauan dari mangkuk kaca yang berisi cinta kesatuan antara kopi dan gula. Karena kopi dan gula tidak akan pernah terpisahkan sampai kapanpun.

Ketahuilah, apa yang terjadi pada diri kita sekarang ini merupakan bentuk sayang sang illahi kepada hambanya selama kita berpacu dalam keislamian ajaranNya. Meski dulu mereka sama sekali tidak mendapat titik terang oleh keluarga namun karena kegigihan dan kesungguhan yang mereka punya pada akhirnya mereka bisa membuktikan kepada keluarga bahwasanya mereka bisa menyulap kegelapan menjadi titik terang hingga berubah seberkas cahaya.

Seberkas cahaya yang telah hadir dalam kehidupan ini membuat sejuta kerinduan yang terpendam saat berpisah dengan orang terkasih. Mati dan hanyut terbawa suasana hati sangat mengganggu ketentraman jiwa meski kini telah bersemayam utuh pada suatu titik yang diharapkan. Bak insan belia yang terlahir kita tidak mungkin selamanya dapat mengontrol suasana hati walau sebenarnya kita telah mengenal dia sejauh kita berusaha mengenal sang kholiq lebih dalam.

Maha cinta sebuah anugrah karya dari sang illahi yang mampu meresapkan semua nilai menjadi satu hingga terbentuk jalinan kasih asmara antara anak hawa dan adam hingga kelak mereka mampu berpacu dalam sebuah titik yang diridhoi illahi. Inshaa Allah…

Dalam kitab suci kebesaran islami telah diulas “Dia memberikan hikmah (kemampuan untuk memahami rahasia-rahasia syariat agama) kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat. (QS. Al-Baqarah [3] : 269).

” Utamakanlah cinta MU kepada Tuhan dan orangtua MU”

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *