Hypiwish

Senandung Ta’aruf “Love is Like Coffe” Part 03

Part 3

Kini anit hadir dengan nama baru sebuah gelar yang berujung pada nama. Gelar adalah wujud suatu inspirasi setiap insan yang berasalkan hasil dari sebuah usaha dalam setiap pendidikan strata maupun diploma dengan ketetapan jenjang masing-masing. Sejauh ini semua masih tentang lana, hasil yang didapati hanyalah aplikasi pengorbanan anit semata. Memang beliau telah bermetamorfosa dari sifat cueknya menjadi lebih sedikit terbuka dengan anit. Namun yang disesali kenapa beliau baru hadir disaat titik terang pertama telah kuraih, kemana beliau disaat gemerlap itu menggerayangi ku?. Anit sedih namun tetap pada rasa syukur sang kholiq. Setidaknya beliau mengalami mobilisasi. Anit hanya dapat mengukir kata asa pada jejaring sosial miliknya “semakin aku ingin tetap menyimpan rasa untuknya, rasa kekecewaan semakin menyelimutiku bak kabut dengan semua sifatnya selama ini. Kenapa beliau begitu egois? dan apakah aku terlalu baik menjadi seorang wanita? Inikah balasan dari Tuhan yang telah menyia-nyiakan insan berlaku layaknya seperti aku tempo dulu?”. Sesal yang selalu hadir dalam batin membuat dirinya lebih tegar menghadapi setiap kejadian asmara pada permainan panggung sandiwira ini. Bagi segenap insan telah berpendapat karma akan selalu berlaku. Namun sebenarnya kepercayaan itu kembali kepada individu masing-masing bagaimana ikhtiar mereka. “Allah maha tahu segalanya. Dia yang maha hidup yang terus menerus mengurus (makhluk_Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur”. (QS Al-Baqarah [3] : 255).

* * *

Seiring perjalanan asa yang senantiasa menyelimuti langkahnya,, ia ayunkan terus seluruh anggota gerak. Meski sekarang raga merasa sepi karena kurangnya aktifitas yang menentu bahkan urusan diploma saja, ia, belum menemukan jodoh apalagi dicampur adukan dengan asmara. Anit hanya mengukir asa disetiap usaha, bermimpi disetiap kejadian. Inilah anit, insan yang terbiasa hidup dibelakang panggung. Dengan diperketatnya literasi lapangan pekerjaan diploma kesehatan maka anit memperketat juga ikatan asmara yang ada pada batin, demi mengobati semua kegundahan yang akan hadir. Jikalau hidup untuk mencari bekal akhirat yaitu ilmu maka jangan pernah mempelajari apa itu kegundahan karena itu bukan ilmu yang bermanfaat untuk bekal akhirat. Hal itu timbul karena adanya sifat keterlenaan dengan duniawi. Maka dari itu kita harus melawan semuanya termasuk nafsu duniawi semata. Sesungguhnya itu sifat manusiawi, hanya saja anit berusaha untuk mengelakkan agar tidak berdampak negatif. Sebagaimana telah diriwayatkan motivator islam “seorang mujahid adalah orang yang berjuang mengendalikan nafsunya diatas ketaatan kepada Allah. Dan seorang yang berhijrah adalah yang meninggalkan segala larangannya” (HR Ahmad)

Seiring dengan petikan gitar yang berusaha dimainkan anit, seketika itulah ia merasakan perubahan sikap beliau. Senantiasa telah memancarkan kembali cahaya keterbukaan akan sikapnya selama ini. Lana seolah-olah menunjukkan keseriusannya. Jujur pada hati yang terdalam telah berusaha untuk memudarkan jejak kasih kekaguman terhadap beliau. Tapi kenapa disaat I try do it, beliau malah menunjukkan sifat itu. “Allah maha tahu segalanya”, batin anit seketika itu. Anit berusaha untuk memulainya kembali namun tetap pada tekadnya dengan taaruf. Ia tidak ingin tertipu dengan semua penawaran dunia hingga dapat mengancam kepunahan islami pada dirinya.

* * *

 

Seiring berputarnya waktu, hari mengilas minggu, minggu melipat bulan. Hari-hari yang anit lalui dimana dulunya terasa seperti kopi kini telah menjadi rasa yang begitu nikmat karena kehadiran gula dalam hidupnya. Lana memang tidak semanis madu, tidak setampan nabi Yusuf a.s namun ia mampu menghiasi hidup anit bak butiran-butiran gula yang disertai dengan rasa manisnya kesetian cinta dan kasih sayang yang ia torehkan pada anit. Laksana hidup anit kini telah bermetamorfosa dari secangkir kopi menjadi semangkuk kopi yang penuh cinta.

Cinta memang dambaan semua insan. Cinta dibutuhkan setiap insan. Begitu juga dengan cinta yang dirasakan anit sekarang. Ia memang bukan penyair yang bisa membuai wanita dengan permainan kata-katanya. Ia juga bukan penyihir yang bisa menghipnotis cinta seseorang, namun ialah dzat nan maha agung pencipta alam semesta beserta dengan sejuta nikmat. Itulah kenapa ia berhasil menyusuri relung hati anit, yang membuat anit semakin menambah kecintaan pada illahi. Sama halnya ketika disetiap sepertiga malam anit menghadapkan jiwa dan raga kepada-Nya serta disetiap dhuha anit hadir untuk-Nya.

Semakin diperdalamnya cinta anit kepada sang kholiq, beliau bahkan semakin berusaha agar anit tidak pernah mencoba jauh darinya. Bahkan pada saat kepergiannya untuk berlayar, beliau tidak luput absen pamitan. Sesaat keberangkatan itu terjadi beliau berkata “akan aku hadirkan sejuta peristiwa untuk mu walau raga ini tidak disisi mu dan ketahuilah sejuta peristiwa itu adalah pesan-pesan lisan yang akan disampaikan ayah dan bunda padamu jikalau engkau risau dalam menjalani hidup serta seribu pendamping itu adalah semua umat nabi yang akan menengur mu jikalau engkau salah, maka dari itu jangan pernah engkau risau dan salah jika sedang berselimut kesepian, wahai dinda”. Itulah kata teromantis bagi anit yang pernah ia ungkapkan. Hingga beberapa saat kemudian awak kapal senantiasa berputar mengikuti arah arus air laut. Anit yang ditinggalkan hanya bisa melambaikan tangan mengantar keberangkatannya seraya melapangkan dada. Akan ku patuhi semua pesan mu sebagaimana ayah dan bunda akan selalu hadir dalam kesepianku, batin anit. Bak rasa kepatuhan cinta yang jauh lebih mendalam pada sang illahi. Sebagaimana firman Allah SWT “Dan diantara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqarah [2] : 165).

Layaknya gula yang tidak pernah menghilangkan rasa manisnya walau telah diterpa panas meski membuat dirinya meleleh sekalipun ia akan tetap menambah rasa manis yang ia miliki, inilah salah satu cara anit menghadapi hidup. Berusaha senantiasa bak gula. Rasa manis menghadapi hidup membuat rasa kekaguman yang mendalam terhadap kuasa sang pencipta dengan semua yang telah diciptakan didunia ini.

* * *

Semenjak keberangkatan beliau dengan pengabdiannya pada amanah profesinya, anit berusaha menjadi pribadi yang lebih tegar. Pribadi yang kokoh sembari menimbulkan mental baja untuk menghadapi kenyataan hidup. Sebagaimana pesannya dengan sejuta peristiwa. Pesan yang tersirat dalam sejuta peristiwa tersebut membuatnya semakin kokoh untuk berdiri tegap. Menjadikannya sebagai insan yang selalu bersyukur dengan semua anugerah sang illahi kepada hambanya. Walau terkadang terpaan cobaan dan ujian silih berganti membuatnya terkadang pasrah dengan keadaan. Ia sadar, pasrah dengan keadaan tidak akan merubah keadaan, karena keadaan tidak akan pernah merubah jikalau bukan kita mengubahnya.

Suatu ketika, saat usai sholat malam entah kenapa anit merasakan bayangan semu kehadiran beliau. Terkadang hasrat rasa tidak dapat berbohong dengan pikiran. Namun itu hanya filosofi kerinduan saja sebagai jalinan kasih anak Tuhan. Meski disadari masih beberapa bulan lagi kepulangannya di tanah rang kayo itam. Filosofi hasrat asa dan rasa yang dimiliki anit terhadapnya membuat otak ini terkadang lebih memenangkan ego pada jiwa. Sembari diiringi perasaan ini, anit memutuskan untuk tidak memenangkan egonya. Adakalanya ego harus dikalahkan dengan kesabaran dalam sebuah penantian yang hampir penuh akan puncak kesuksesan pada filosofi kehidupan. Filosofi kehidupan terkadang membuat seribu tanda tanya dan sejuta impian untuk mewujudkan keinginan dari hati kecil.

**** Beberapa bulan kemudian, beliau tiba di tanah pilih rang kayo itam tanpa mengabarkan kepada anit terlebih dahulu jikalau beliau akan tiba pulang.

* * *

Senja itu, saat anit tengah asyik menggorehkan tinta pena miliknya ke secarik kertas hingga terwujud suatu kalimat yang bermakna, lana tiba-tiba hadir dengan membawa secangkir kopi hangat. Anit tidak mengetahui darimana beliau datang tanpa ada suara, kilat hadir tepat didepan mata pena. Dengan lirih beliau berbisik “aku kangen pada mu dinda, I miss you dinda”seketika wajah ini merah jambu bak kembali jatuh cinta.
“Apakah engkau mendapat bimbingan bahasa cinta disana?” tanya anit padanya.
” tidak dinda, apakah aku salah jikalau aku sesekali bersifat romantis padamu?”tanyanya pada anit.

Anit hanya tersenyum lirih, beliau akhirnya menanyakan keadaan keluarga anit dan keluarganya. “Semuanya baik-baik saja, jangan khawatir” kata anit padanya. Tuhan selalu bersama hambanya. Begitulah percakapan singkat dan pertemuan hangat itu. Mereka saling berbagi cerita dan pengalaman yang mereka rasakan. Namun pertemuan itu tidak berlangsung lama karena mereka sadar, jangan sampai terjadi gibah.

Saat ini, mereka hanya bisa menanti digelarnya karpet biru sebagai penanda ikatan hubungan mereka secara islami. Mereka telah sepakat kalau mereka akan menentukan karir masing-masing hingga menuju puncak keberhasilan dari perjuangan mereka dan demi kehidupan yang lebih baik. Beliau hanya menghubungi anit dikarnakan bisnis.

Sang kholiq kembali menguji aksi anit, sebagai hamba nan senantiasa menanamkan sifat sabar dalam dirinya. Masih teringat jelas, pada saat seperempatan ba’da isya, anit kembali mencoba menghubunginya dengan niat menanyakan nama panti asuhan beserta alamat lengkap panti asuhan tersebut. Dan apa balasan beliau? Beliau malah berniat untuk menunaikan ibadah yang sesungguhnya sah dalam ikatan islam. Karena mengingat sesungguhnya dalam proses taaruf itu sendiri dilakukan untuk orang insan yang telah siap dan mampu untuk menikah.

Him : saya berniat untuk mengakhiri hubungan kita. Bolehkah saya menjadikan mu halal bagi ku? Seperti pinta mu dulu, pada buku pertama mu “Jadikan aku halal bagimu”. Wahai dinda, masih ingatkah engkau dengan buku pertama mu itu? Apakah engkau masih tetap pada pendirian mu sebagai konselor kesehatan reproduksi hingga diusia mu yang sekarang, engkau masih tetap tidak ingin menunaikan ibadah itu?
Anit hanya bisa membalas, “ini berkaitan dengan semuanya mas, termasuk juga adat. Bukankah telah ku katakan sebelumnya aku memilih taaruf. Bukankah itu lebih baik? Karena aku sadar, kita telah banyak melakukan kesalahan yang tidak seharusnya ada dalam islamiah.
Him : apakah kita harus memperkenalkan adat, tanpa mendahulukan syariat? Bukankah syariat harus didahulukan? Sekarang banyak insan yang melatarbelakangi syariat, terus mengedepankan adat mereka masing-masing, apa jadinya coba kalau semua insan berpikir seperti itu?

Hening sejenak…..

Her : Aku hanya ingin, engkau tahu adat itu kental dalam keluarga ku.
Him : Ya, sudah. Tunggu dinda ke negeri rantau ajalah, kita bahas kembali.

Yeah, itulah beliau. Tidak akan ada banyak kata yang terlontar. Jikalau itu hanya melewati radar udara. Baginya sesuatu akan dianggap sah apabila telah bertatap muka. Tidak akan ada kata serius, jikalau itu hanya dimulut saja. Seperti pinta mu, “engkau butuh aplikasi nyata dalam hidup “. Ucapnya selanjutnya sebelum mengakhiri percakapan singkat itu.

Bagi anit saat itu, terlalu cepat untuk memulai kehidupan yang baru. Begitu banyak persiapan moril yang perlu anit pelajari sebelum memasuki kehidupan baru tersebut. Bahkan, beliau hampir lupa pada janji mereka masing-masing. Maka, anit memutuskan menyerahkan segala urusan ini kepada sang kholiq, meski anit menyadari kesalahan terbesar orang yang gagal adalah terlalu banyak berpikir dan tidak segera melakukan tindakan. Namun dalam hal ini beda. Ini bukanlah lagi suatu permainan. Tapi merupakan suatu kesiapan untuk menghadapi semua masalah yang bakalan terjadi kedepannya. Bukankah tidak ada kehidupan yang berjalan mulus begitu saja. Namun tetap yakin dan percayalah “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izinNya. Dia maha mengetahui apa yang dihadapan mereka dan apa yang dibelakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun tentang ilmuNya melainkan apa yang dia kehendaki. Dia maha tinggi, maha besar. (QS. Al-Baqarah [3] : 255)

Memang setelah sikap romantis itu tiba, mereka menyadari telah melakukan kesalahan dalam kesahihan proses taaruf ini. Maka semenjak itulah mereka memutuskan untuk tidak saling menghubungi, hingga menunggu waktu itu tiba. Karena kita adalah milik Tuhan, maka mereka mengembalikan lagi diri mereka kepada sang kholiq.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *