Hypiwish

Hujan Dikala Panas

Pernahkah kamu terpatahkan?
Pernahkah kamu tiba-tiba kehilangan planning dalam hidupmu?
Pernahkah kamu tersesat?
Pernahkah kamu lari dari NYA?
Pernahkah kamu jatuh berkali-kali?

Aku pernah…

Pernah patah bahkan terpatahkan. Aku pernah tersesat dan kehilangan arah. Bahkan aku hilang, aku marah, aku lari dari NYA. Jatuh dan terjatuh lagi. Berkali-kali, entah berapa kali lamanya. Hidup ini hanya selalu berkiprah pada masalah. Masalah dan masalah. Bahkan hidup untuk menikmati yang namanya masalah. Setiap kita memiliki masalah. Setiap kita akan selalu ada cerita menarik. Ketika tamu yang bernama masalah itu berkunjung, maka keluhan demi keresahanpun senantiasa terjadi. Terkadang berselimut dalam kesedihan, berdekapan pada tangis yang hangat.

Apa yang kita tangisi belum tentu kepiluan. Apa yang kita keluhan bukan berarti bentuk protes. Apa yang kita resahkan bukanlah pertanda kegelisahan. Ku rasa hidup ini terlalu singkat. Terlalu berliku-liku untuk suatu tujuan. Namun yang pasti, terlalu manis untuk selalu dikeluhkan.

Kamu pikir, apakah seorang motivator tidak mengalami ini? Apakah seorang ilmuwan tidak menghadapi ini? Kamu salah.. siapapun dia, apapun jabatannya, apapun profesinya, apapun kedudukannya dan bagaimanapun ia pasti menemui yang namanya masalah. Bahkan presiden sekalipun. Terlebih alim ulama yang selalu mendekatkan diri pada NYA, yang selalu berpikir positif, tetap berteman yang namanya masalah. Ia hadir sesukanya. Ia datang menuntut kita untuk profesional. Ia tidak pernah peduli siapa dan bagaimana kita.
Kamu pikir, aku kuat untuk merangkai kata ini? Aku sosok yang luar biasa untuk kamu kagumi? Tidak.. aku harap setelah membaca buku ini, kamu bukanlah pengagumku. Kamu hanya menjadikan kisah ini inspirasi untuk tidak mengeluh. Satu hal yang pasti “sesungguhnya setiap kesulitan akan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah [94] : 6).

Memulai dengan bismillah, niatkan hati yang tulus, luruskan ikhlas dalam hidup kita. Hidup hanya untuk memperbaiki. Hidup hanya proses untuk menuju mati. Apa yang kamu lakukan? Sejauh mana kamu telah mempersiapkan diri untuk mati? Tetapkah sadarkah kamu? Ataukah hanya sibuk dengan duniawi?

Aku anit. Saat ini aku berusia 24 tahun. Hidup ku hanya diseputaran layar. Entah itu layar handphone, layar TV ataupun layar laptop ini. Alias aku pengangguran. Kalau kata kerennya sih aku Ex Mahasiswa. Aku berhasil menyelesaikan studi ku pada tahun 2014. Hingga setelah aku mengabdi di tanah kelahiran ku sebagai tenaga kesehatan sukarela, karena kebetulan jurusan pendidikan ku aliansi kesehatan.

Desember 2014 ku memutuskan untuk hijrah. Aku belajar menutup kepala, menundukkan pandangan, serta untuk mengurangi pergaulan pada lawan jenis. Hingga akhirnya Tuhan memberiku suatu anugrah. Dititipkan kepada ku sakit pada bagian kepala yang begitu hebat. Kata dokter penyakit ini adalah pembekuan sel darah putih pada otak, penyakit ini menghampiri leukemia. Hingga aku harus kemo dan konsul rutin pada dokter. Dan anehnya sakit ku ini terjadi begitu hebatnya setiap kamis malam. Hingga ayah dan bunda harus selalu berada di dekat ku. Karena kasihan melihat ku, bunda pernah berkata “buka jilbab saja lah ya, itu karena tertutup terus jadi kepanasan” lalu ku katakan “tidak, cukuplah yang telah lalu aku sering melakukan kesalahan, ini salah satu cara Tuhan menyayangi ku”. Hari-hari selanjutnya tetap ku jalani bersama sakit dikepala. Satu keyakinan “tidaklah seorang muslim yang tertimpa gangguan berupa penyakit atau semacamnya, kecuali Allah akan menggugurkan bersama dengan dosa-dosanya, sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunannya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pada tahun 2015, aku melanjutkan pendidikan disalah satu institut swasta. Disinilah ku dipertemukan dengan teman-teman seperjuangan yang begitu memotivasi. Bukan hanya teman, tapi mereka lebih daripada itu. mereka sahabat sekaligus saudari yang selalu mengingatkan kebajikan. Bukan hanya secara akademis bahkan diluar akademispun tetap saling memopang. Namun sayangnya, kami tidak diwisuda bersamaan. Dikarena ada suatu kendala. Aku, lita dan nisa ibarat hujan. Yah,, meski kedatangannya terkadang dibenci namun hujan adalah anugrah. Begitu pula dengan persahabatan kami, meski terkadang kami saling merasa jengkel karena perbedaan watak masing-masing. Namun kehadiran mereka adalah sebuah anugrah. Bagiku, semua yang ada disekitar ku adalah sahabat. Termasuk masalah. Sebaiknya-baiknya menghadapi masalah, ketika kita bersahabat dengan masalah itu sendiri.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *