Hypiwish

Faktor-Faktor Preklamsia

1. Definisi Preeklampsia

Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi,edema dan protein urin tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih. Selain itu, Mansjoer (2000) mendefinisikan bahwa preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan (Icesmi, 2013).

Preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan (Padila, 2015).

Menurut kamus saku dorland (2012. Hal:874), preeklampsia adalah toksemia pada kehamilan tua yang ditandai oleh hipertensi, edema, dan proteinuria.

Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulakan bahwa preeklampsia (toksemia gravidarum) adalah sekumpulan gejala yang timbul ada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan proteinuria yang muncul pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan.

2. Epidemiologi Preeklampsia

Pada tahun 2003, angka kejadian preeklampsia dan eklampsia meningkat di negara-negara yang sedang berkembang, dari 15% setiap tahunnya meningkat menjadi 30% dan 15% berakhir dengan kematian ibu. Di indonesia, angka kejadian preeklampsia berkisar antara 3,4-8,5% (Yulia, 2012). 

3. Faktor Resiko Preeklampsia

Menurut Vivien (2013), bukti dari penelitian epidemiologi mengidentifikasi berbagai faktor yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi ibu yang berisiko terhadap gangguan tersebut. Akan tetapi, bukan berarti bahwa ibu yang tidak memiliki faktor tersebut tidak berisiko mengalami masalah ini. Beberapa faktor resiko preeklampsia, diantaranya:

  1. Molahidatidosa
    Molahidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana hampir seluruh vili korialisnya mengalami perubahan hidrofik. Uterus melunak dan adanya janin, cavum uteri hanya terisi oleh jaringan seperti rangkaian buah anggur korialis yang seluruhnya atau sebagian berkembang tidak wajar berbentuk gelembung-gelembung seperti anggur (Elisabeth, 2015).
  2. Diabetes mellitus
    DM (diabetes mellitus) adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah tinggi. Di Indonesia DM dikenal juga dengan istilah kencing manis yang merupakan salah satu penyakit yang prevalensinya kian meningkat. Menurut kriteria diagnostik PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) 2006, seseorang dikatakan menderita diabetes jika memiliki kadar gula darah puasa > 126 mg/dL dan pada tes sewaktu > 200 mg/dL (Ratna, 2012).
  3. Kehamilan Ganda
    Suatu kehamilan dimana terdapat dua atau lebih embrio atau janin sekaligus. Kehamilan ganda terjadi, apabila dua atau lebih ovum dilepaskan dan dibuahi atau apabila satu ovum yang dibuahi membelah secara dini hingga membentuk dua embrio yang sama pada stadium massa sel dalam atau lebih awal. Kehamilan kembar dapat memberikan resiko yang lebih tinggi terhadap ibu dan janin. Oleh karena itu, dalam menghadapi kehamilan ganda harus dilakukan perawatan antenatal yang intensif (Taufan, 2012).
  4. Hidrops fetalis
    Hidrops fetalis adalah kondisi serius dimana sejumlah cairan abnormal terbangun didua atau lebih area tubuh janin atau bayi. Ada dua jenis hidrops fetalis yakni imun dan non imun.hidrops fetalis imun merupakan komplikasi inkompalibitas Rh yang parah menyebabkan kerusakan  besar sel-sel darahmerah, yang mengarah kebeberapa masalah, termasuk pembengkakan tubuh total.hidrops fetalis non imun terjadi ketika kondisi penyakit mengganggu kemampuan tubuh untuk mengatur cairan (Kamus kesehatan, 2016).
  5. Obesitas
    Obesitas atau kegemukan (kelebihan berat badan) yaitu suatu keadaan patologis penimbunan lemak yang berlebihan masalah gizi karena kelebihan lemak, dan protein hewani, kelebihan gula dan garam, tetapi terjadi kelebihan serat dan mikro-nutrien, yang bisa mengakibatkan terjadinya berbagai jenis penyakit degeneratif, seperti hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung koroner, reumatik, dan berbagai jenis penyakit keganasan (kanker) dan gangguan kesehatan lain (Ratna, 2012).

Kategori BB/TB BB/TB²
Obesitas ringan/ derajat IObesitas sedang/ derajat IIObesitas berat/ derajat IIIObesitas super/ derajat (morbid)  120-135135-150150-200>200  25-29,930-40>4
Sumber: Ratna 2012

Menurut ratna (2012), ada dua cara dalam penghitungan berat badan. Yaitu :

  1. Menghitung berat badan ideal (BBI)
    BBI = 90% x (TB -100)

    Menghitung status gizi, dengan RBW (Relative Body Weight)

    RBW = berat badan/ (TB-100) x 100%
    Kriteria RBW :
    Kurus : < 90%
    Normal : 90-110%
    Gemuk : 110-120%
    Obesitas : > 120%

  2. Hipertensi

    Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic (bagian atas) dan angka bawah (diastolic) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa (sphygmomanometer) ataupun alat digital lainnya (Ratna, 2012).

     

    Pada preeklampsia peningkatan reaktivitas vaskular dimulai umur kehamilan 20 minggu, tetapi hipertensi dideteksi umumnya pada trimester II. Tekanan darah yang tinggi pada preeklampsia bersifat labil dan mengikuti irama sirkadian normal. Tekanan darah menjadi normal beberapa hari pasca persalinan, kecuali beberapa kasus preeklampsia berat kembalinya tekanan darah normal dapat terjadi 2-4 minggu pasca persalinan (Sarwono, 2010).

    Hipertensi juga terjadi pada peningkatan tekanan arterial rerata 20mmHg. Angka-angka yang diuraikan diatas harus terjadi paling sedikit dua kali, selang 6 jam atau lebih dan didasrkan pada catatan tekanan darah terdahulu (Ralph, 2009).

     

  3. Edema

    Edema dapat terjadi pada kehamilan normal. Edema yang terjadi pada kehamilan mempunyai banyak interpretasi, misalnya 40% edema dijumpai pada hamil normal, 60%edema dijumpai pada kehamilan dengan hipertensi, dan 80% edema dijumpai pada kehamilan dengan hipertensi dan proteinuria.
    Edema terjadi karena hipoalbuminemia atau kerusakan sel endotel kapiler. Edema yang patologik adalah edema yang nondependen pada muka dan tangan, atau edema generalisata, dan biasanya disertai dengan kenaikan berat badan yang cepat (Sarwono, 2010).

  4. Proteinuria

    Proteinuria yakni adanya protein serum yang berlebihan dalam urin, seperti pada penyakit ginjal atau setelah latihan fisik yang berat (Dorland, 2012). Hingga 30% pasien dengan eklampsia tidak akan mengalami proteinuria, tetapi jika terjadi proteinuria menandai peningkatan resiko janin (lebih mungkin terjadi peningkatan kematian perinatal (Ralph, 2009).


    No Klasifikasi tekanan darah Tekanan sitolik dan diastolik (MmHg)
    1 Normal Sistole <120 dan diastolik <80
    2 Prehipertensi Sistole 120-139 dan diastolik 80-89
    3 Hipertensi stadium I Sistole 140-159 dan diastolik 90-99
    4 Hipertensi stadium II Sistole > 160 dan diastolik >100

  5. Kejang

    Kejang adalah suatu perubahan fungsi pada otak secara mendadak dan sangat singkat atau sementara yang dapat disebabkan oleh aktifitas otak yang abnormal serta adanya pelepasan listrikserebral yang sangat berlebihan. Terjadinya kejang disebabkan oleh malformasi otak congenital,faktor genetis atau adanya penyakit seperti meningitis,ensefalitis serta demam yang tinggi. Secara umum kejang dibagi dalam dua kategori besar yakni kejang bersifat lokal atau parsial dan kejang yang bersifat umum (Dwi, 2011)

  6. Koma

    Koma adalah situasi darurat medis ketika penderitanya mengalami keadaan tidak sadar dalam jangka waktu tertentu. Ketidak sadaran ini disebabkan oleh menurunnya aktivitas di dalam otak yang dipicu oleh beberapa kondisi. Tingkat kesadaran penderita koma tergantung dari seberapa besar bagian otak yang masih berfungsi, dan keadaan ini biasanya berubah seiring waktu. (Dr.OZ Indonesia).

4. Klasifikasi Preeklampsia

Berdasarkan gejala-gejala klinik preeklampsia dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu sebagai berikut:

a. Preeklampsia Ringan

Preeklampsia ringan adalah suatu sindroma spesifikkehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya vasopasme pembuluh darah dan aktivasi endotel(Sarwono, 2010).

Preeklampsia ringan adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema pada umur kehamilan 20 minggu atau lebih atau pada masa nifas. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas. Penyebab preeklampsia ringan belum diketahui secara jelas. Penyakit ini anggap sebagai “maladaptation syndrome” akibat vasospasme general dengan segala akibatnya (Taufan, 2012).

Preeklampsia ringan, disertai keadaan tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi berbaring terlentang, atau kenaikan diastolik 15 mmHg.Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada 2 kali pemeriksaan dengan jarak periksa 1 jam, sebaiknya 6 jam. Ciri-cirinya seperti edema umum, kaki, jari tangan, dan muka, kenaikan berat badan 1kg atau lebih per minggu, protein urin kwantatif 0,3 gr ataulebih per liter, kwalitatif +1 atau +2 pada urin kateter atau midstream (Icesmi, 2013)

b. Preeklampsia Berat

Preeklampsia berat ialah preeklampsia dengan tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan diastolik ≥ 110mmHg disertai proteinuria lebih 5 g/24 jam (Sarwono, 2010).

Preeklampsia berat karena adanya gangguan serebral, gangguan visus, dan rasa nyeri pada epigastrium.Terdapat edema paru dan sianosis (Icesmi, 2013).

5. Etiologi Preeklampsia

Penyebab preeklampsia sampai sekarang belum diketahui. Tetapi ada teori yang dapat menjelaskan tentang penyebab preeklampsia yaitu: bertambahnya frekuensi pada primigraviditas, kehamilan ganda, hidramnion,dan mola hidatidosa. Bertambahnya frekuensi yang makin tuanya kehamilan.Dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin dalam uterus.Timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang dan koma (Icesmi, 2013).

Dalam teori Icesmi (2013), beberapa teori yang mengatakan bahwa perkiraan etiologi dari kelainan tersebut sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the diseasesof theory. Adapun teori-teori tersebut antara lain :

a. Peran faktor imunologis

Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi sistem komplemen pada preeklampsia/eklampsia. Pada penderita preeklampsia terjadi penurunan proporsi T-helper dibandingkan dengan penderita yang normotensi yang dimulai sejak awal trimester dua. Antibodi yang melawan sel endotel ditemukan pada 50% wanita dengan preeklampsia, sedangkan pada kontrol hanya terdapat 15%.

b. Peran faktor genetik/familial

Terdapat kecenderungan meningkatnya frekuensi preeklampsia/eklampsia pada anak-anak dari ibu yang menderita preeklampsia/eklampsia. Bukti yang mendukung berperannya faktor genetik pada kejadian preeklampsia adalah peningkatan Human leukocyte antigene (HLA) pada penderita preeklampsia. Beberapa peneliti melaporkan hubungan antara histokompatibilitas antigen HLA-DR4dan proteinuria hipertensi. Diduga ibu-ibu dengan HLA haplotipe A 23/29,B 44 dan DR 7 memiliki resiko lebih tinggi terhadap perkembangan preeklampsia dan IUGR daripada ibu-ibu tanpa haplotipe tersebut.

c. Faktor Umur Ibu

Umur adalah lama waktu hidup atau sejak dilahirkan. Umur sangat menentukan suatu kesehatan ibu, ibu dikatakan beresiko tinggi apabila ibu hamil berusia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun. Umur berguna untuk mengantisipasi diagnosa masalah kesehatan dan tindakan yang dilakukan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Juwaher (2011) cakupan yang memiliki umur 20-35 tahun (tidak resti) sebagian besar melakukan pemeriksaan kehamilan sesuai dengan standar (≥ 4 kali), dibandingkan dengan yang berumur < 20 atau > 35 tahun (resti). (Elisabeth, 2015)

d. Paritas

Paritas adalah keadaan wanita berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan. Paritas anak kedua dan anak ketiga merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Pada paritas tinggi lebih dari 3 mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Pada paritas rendah, ibu-ibu hamil belum begitu mengerti tentang kehamilan dan pentingnya pemeriksaan kehamilan (Elisabeth, 2015).

e. Faktor Lingkungan

Faktor pendidikan dan pekerjaan ibu hamil juga mempengaruhi terjadinya preeklampsia. Elizabeth (2015) menemukan bahwa wanita yang bekerja diluar rumah memiliki resiko lebih tinggi mengalami preeklampsia bila dibandingkan dengan ibu rumah tangga. Sedangkan ditinjau dari segi pendidikan, preeklampsiaa terjadi lebih sering pada wanita yang berpendidikan rendah dibandingkan dengan yang berpendidikan tinggi.

f. Nutrisi

Gizi pada waktu hamil harus ditingkatkan hingga 300 kalori per hari, ibu hamil harusnya mengkonsumsi yang mengandung protein, zat besi, dan minum cukup cairan (menu seimbang). Misalnya pada minggu ke-24 batasi garam karena memicu tekanan darah tinggi dan mencetus kaki bengkak akibat menahan cairan tubuh. Bila ingin jajan atau makan diluar, pilih yang bersih, tidak hanya kaya karbohidrat tapi bergizi lengkap, tidak berkadar garam dan lemak tinggi (misal, gorengan dan junk food). Bila mungkin pilih yang kaya serat. Itulah sebabnya pemenuhan gizi seimbang tidak boleh dikesampingkan baik secara kualitas maupun kuantitas (Elizabeth, 2015)

6. Patofisiologi Preeklampsia

Pada preeklampsia terdapat penurunan aliran darah. Perubahan ini menyebabkan prostaglandin plasenta menurun dan mengakibatkan iskemia uterus.Keadaan iskemia pada uterus, merangsang pelepasan bahan tropoblastik yaitu akibat hiperoksidase lemak dan pelepasan renin uterus menyebabkan terjadinya endhotheliosis dan menyebabkan pelepasan tromboplastin. Tromboplastin yang dilepaskan mengakibatkan pelepasan tomboksan dan aktivasi agrerasi trombosit deposisi fibrin. Yang kemudian akan mengakibatkan terjadinya vasopasme sedangkan aktivasi akan menyebabkan koagulasi intravaskular yang mengakibatkan perfusi darah menurun (Icesmi, 2013).

Pada darah akan terjadi enditheliosis menyebabkan sel darah merah dan pembuluh darah pecah. Pecahnya pembuluh darah akan menyebabkan terjadinya pendarahan, sedangkan sel darah merah yang pecah akan menyebabkan terjadinya anemia hemolitik (Icesmi, 2013.).

Pada ginjal, akibat pengaruh aldosteron, terjadi peningkatan reabsorpsi natrium dan menyebabkan retensi cairan dan dapat menyebabkan terjadinya edema sehingga dapat memunculkan diagnosis keperawatan kelebihan volume cairan (Icesmi, 2013).

Pada plasenta penurunan perfusi akan menyebabkan hipoksia/anoksia sebagai pemicu timbulnya gangguan pertumbuhan plasenta sehingga dapat berakibat terjadinya Intra Uterin Growth Retardation serta memunculkan diagnosa keperawatan risiko gawat janin (Icesmi, 2013).

Pada ekstrimitas dapat terjadi metabolisme anaerob menyebabkan ATP diproduksi dalamjumlah yang sedikit yaitu 2 ATP dan pembentukan asam laktat, yang akan menimbulkan keadaan cepat lelah, lemah sehingga muncul diagnosa keperawatan intoleransi aktivitas. Keadaan hipertensi akan mengakibatkan seseorang kurang terpajan informasi dan memunculkan diagnosa keperawatan kurang pengetahuan (Icesmi, 2013).

7. Manifestasi Klinik pada Preeklampsia

Biasanya tanda-tanda preeklampsia timbul dalam urutan pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria. Pada preeklampsia ringan tidak ditemukan gejala-gejala subyektif. Pada preeklampsia berat didapatkan sakit kepala di daerah prontal, diplopia, penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastrium, mual atau muntah. Gejala-gejala ini sering ditemukan pada preeklampsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklampsia akan timbul (Icesmi, 2013).

8. Pencegahan Preeklampsia

Menurut Padila (2015), beberapa pencegahan preeklampsi antara lain:

a. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu secara teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (preeklampsi ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.

b. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya preeklampsi kalau ada faktor-faktor predisposisi.

c. Berikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan, serta pentingnya mengatur diet rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi protein, juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan.

9. Komplikasi Preeklampsia

Menurut Padila (2015), komplikasi pada preeklampsi tergantung pada derajat preeklampsi yang dialami. Namun yang termasuk komplikasi antara lain:

a. Pada ibu:

  1. Eklampsia
  2. Solusio plasenta
  3. Pendarahan subkapsula hepar
  4. Kelainan pembekuan darah
  5. Sindrom HELLP (hemolisis, elevated, liver, enzymes, danlow platelet count)
  6. Ablasio retina
  7. Gagal jantung gingga syok dan kematian

b. Pada janin

  1. Terhambatnya pertumbuhan dalam uterus
  2. Prematur
  3. Asfiksia neonatorum
  4. Kematian dalam uterus
  5. Peningkatan angka kematian dan kesakitan

10. Penatalaksanaan

Penanganan pada preeklampsia bertujuan untuk menghindari kelanjutan menjadi eklampsia dan pertolongan dengan melahirkan janin dalam keadaan optimal dan bentuk pertolongan dengan trauma minimal.

Monitoring pada maternal Monitoring pada fetus
– Pengukuran tekanan darah seminggu dua kali
– Uji laboratorium seminggu sekali
– Uji proteinuria : kreatinin dan pengumpalan urin 24 jam secara periodik dengan pemeriksaan dipstick atau protein spot/rasio. – Pemeriksaan non stres setiap satu atau dua minggu sekali
– Pengukuran index cairan amnion setiap satu atau dua minggu sekali
– Pemeriksaan ultrasonografi untuk mengetahui pertumbuhan fetus setiap tiga atau empat minggu sekali. (tabel)

a. Preeklampsia Ringan

Pada preeklampsia ringan penanganan simtomatis dan berobat jalan dengan memberikan :

  1. Sedative ringan
    – Phenobarbital 3×30 mgr
    – Valium 3×10 mgr.
  2. Obat penunjang
    – Vitamin B kompleks
    – Vitamin C atau vitamin E
    – Zat besi
  3. Nasihat
    – Garam dalam makanan dikurangi
    – Lebih banyak istirahat baring ke arah punggung janin
    – Segera memeriksakan diri, bila terdapat gejala sakit kepala, mata kabur, edema mendadak atau berat badan naik, pernapasan semakin sesak, nyeri epigastrium, kesadaran makin berkurang, gerak janin melemah, berkurang, pengeluaran urin berkurang.
  4. Jadwal pemeriksaan hamil dipercepat atau diperketat.

b. Preeklampsia berat

Pada preeklampsia berat, pasien harus segera dirujuk. Petunjuk untuk segera memasukkan penderita ke rumah sakit atau merujuk penderita perlu memperhatikan hal berikut :

  1. Bila tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih
  2. Protein urin 1 plus atau lebih
  3. Kenaikan berat badan 1 1/2kg atau lebih dalam seminggu
  4. Edema bertambah dengan mendadak
  5. Terdapat gejala atau keluhan subjektif.

    Bidan dapat merawat pasien preeklampsia berat untuk sementara, sampai menunggu kesempatan melakukan rujukan sehingga pasien dapat mendapat pertolongan yang sebaik-baiknya. Pasien diusahakan agar :
    a. Terisolasi sehingga tidak mendapat rangsangan suara ataupun sinar
    b. Infus glukosa 5%
    c. Dilakukan pemeriksaan, seperti:
    d. Pengobatan

    1) Sedativa : phenobarbital 3V100 mgr,valium 3×20 mgr
    2) Menghindari kejang:
    a. Magnesium sulfat

    – Inisial dosis 8 gr IM, dosis selanjutnya 4 gr/6 jam
    – Observasi : pernapasan tidak kurang 16 menit, refleks patela positif, urin tidak kurang dari 600 cc/24 jam
    b. Valium
    – Dosis inisiasi 20 mgr IV, dosis selanjutnya 20 mgr/drip/20 tetes/menit
    – Dosis maksimal 120 mgr/24 jam
    c. Kombinasi pengobatan
    – Phetidine 50mgr IM
    – Klorpromazin 50 mgr IM
    – Diazepam (valium) 20mgr IM
    d. Bila terjadi oliguria beriksn glukosa 40% IV untuk menarik cairan dari jaringan, sehingga dapat merangsang diuresis.

    e. Setelah preeklampsia berat dapat diatasi, pertimbangan mengakhiri kehamilan berdasarkan:
    1) Kehamilan cukup bulan
    2) Mempertahankan kehamilan sampai mendekati cukup bulan
    3) Apabila pengobatan preeklampsia berat gagal, kehamilan diakhiri tanpa memandang usia kehamilan
    4) Merujuk ke rumah sakit untuk pengobatan yang adekuat. Mengakhiri kehamilan merupakan pengobatan utama untuk memutuskan kelanjutan preeklampsia menjadi eklampsia (Yulia, 2012).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *