Hypiwish

Hidup Adalah Pilihan

Masa SMA adalah yang paling menyenangkan, begitu bukan?. Begitulah perjalanan ku, seiring bergulirnya waktu aku pun sampai pada jenjang pendidikan yang sebelumnya ku bayangkan tidak bisa tercapai, ternyata aku mencapainya. Setiap orang berhak dengan pencapaian. Menduduki bangku sekolah menengah atas, aku tetap merasakan suka dan duka, susah senang, serta ujian dan cobaan yang diturunkan sang khaliq. Kadang timbul wacana-wacana dalam benak “untuk apa kita dilahirkan?”. Kita berusaha untuk mengekspresikan diri, mencari jati diri kita yang sebenarnya meskipun sulit untuk kita  tempuh, mencari apa yang belum kita temukan tentang diri kita, ataupun mencari yang hilang dari pencapaian kita.

            Saat itu, aku lebih memilih untuk melanjutkan di luar daerah. Jauh dari orangtua. Kehidupan yang jauh dari orangtua itulah menuntut ku menata kehidupan yang lebih mandiri, lebih berani dalam menjalani kehidupan sembari tetap ikhtiar pada sang kholiq.

Menata kehidupan bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus menapaki jalan berliku, melawan kesedihan yang tertancap bak duri dalam hati.

            Satu hal yang dinantikan oleh anak rantau adalah hari libur. Ketika hari libur telah tiba, inilah saatnya aku berkumpul kembali dengan orangtua. Bak secepat kilat melintas, ku menuju kembali ke daerah dengan kendaraan umum yang tersedia. Beberapa  jam berada dalam kendaraan, puji syukur akhirnya tiba. “Berpijak kembali ke negeri tercinta ini“ gumam ku saat itu. Lalu ku dapati kedua orangtua ku dengan ekspresi syukur mereka. Terucap salam dari bibir kecil ini. Peluk dan cium rinduku pada mereka. Liburan kali ini terasa istimewa karena merupakan liburan idul fitri, hari besarnya umat islam. Teristimewa karena berkumpulnya keluarga besar. Sungguh, suatu anugrah terbesar dapat kembali berada ditengah-tengah keluarga yang harmonis ini.

Bak tanaman merindukan pemelihara, hari yang ditunggu tiba. Perayaan idul fitri dengan hikmah ku nikmati. Dengan haru, tunduk pada illahi ku serahkan semua kebahagiaan dan syukur ini tercurah semata-mata hanya untuk kasih cinta illahi. Ku basuhi kedua telapak kaki orangtua hebat ini dengan semangkuk air, ku cuci bersih seperti kecil ku dulu. Ku teguk agar mampu membersihkan semua yang tidak baik dalam jiwa ini. “Tercurah sebagai kecintaan pada orangtua hebat ku” batin ku. Ku lantunkan sapaan sejuta maaf pada insani illahi robbi. Ku tau ini semua bentuk cinta. Karena cinta illahilah aku berada di dunia ini. Karena cinta rasullah sejuta pengajaran islami selalu tertoreh. Karena cinta orangtualah aku menjadi insani mengimani islam. Karena cinta insani illahi aku mampu mempelajari bagaimana, kenapa, dan siapa di bumi illahi. Lewat semua cinta aku mempelajari banyak hal. “Termasuk jika suatu saat nanti, aku dipertemukan dengan sosok adam karenan cinta” harapku saat itu.

Cinta adalah kendaraan suatu kaum yang mereka selalu berjalan diatas punggungnya menuju sang kekasih. Dan dia adalah jalan mereka yang sangat kokoh menghantarkan menuju rumah-rumah mereka dengan cepat.

Pujangga itu ku dapati dari seorang petuah di komunitas yang ku ikuti. Pujangga tersebut bak menghantarkan ku merasakan apa itu cinta. Sama halnya liburan kali ini. Tidak terlintas sebelumnya akan ada rasa aneh yang timbul pada hati ketika bertatapan dengan salah seorang cucu adam yang juga merupakan bagian dari anggota keluarga besar kami. Sebut saja Sul. Sedikit ku perkenalkan sul. Ia adalah putra angkat dari bibi. Ia berusia 1 tahun lebih tua dari ku. Dan saat itu, kami sama-sama menduduki bangku sekolah menengah atas. Namun pada sekolah yang berbeda. Ia lebih memilih untuk tetap dekat dengan keluarga.

****

Liburan sekolah telah usai, kembali ke negeri rantau serta melanjutkan aktifitas seperti biasanya. Tidak terduga, ketika menuju perempatan arah rantau telepon genggam milikku tiba-tiba bergertar hebat dalam saku jaket. Sigap ku melihatnya. Ternyata nomor yang memanggil tidak dikenal. Ku beranikan diri untuk menjawab panggilan tersebut.

Suara   : Assalamulaikum, nit. Maaf, ini Anwar. Ada yang mau berbicara nih..

Nita     : Wa’alaikumussalam. Iya ada apa war? Siapa yang mau berbicara dengan ku? Tapi aku masih dijalan nih, bisa nanti saja kalau sudah sampai.

Anwar : Bentar saja katanya. Bisa?

Nita     : Iya, sudah. Silahkan.

Suara   : Maaf, aku sepupu anwar.

Nita     : Iya, aku juga sepupu anwar. Siapa ya?

Suara   : Ehm.. ini Sul, nit. Sudah sampai mana sekarang?

Nita     : Perempatan arah rantau, kenapa sul?

Sul       : owh,, boleh saya simpan nomor mu?

Nita     : Iya, simpan saja. Tapi, ingat. Tolong jangan disebarluaskan. Ini Cuma untuk keluarga saja.

Sul       : Baiklah, terimakasih ya..

Nita     : Iya, kembali kasih. Ya sudah, nanti lagi ya dilanjutkan. Tunggu sampai tujuan.

Sul       : Baiklah. Hati-hati dijalan ya, nita. Assalamualaikum

Nita     : Iya, wa’alaikumussalam.

Alhamdulillah, segala puji illahi yang maha kuasa, kembali menapaki negeri rantau. Siap dengan semangat baru melanjutkan kembali aktifitas seperti biasanya. Kala itu, aku aktif dalam berbagai organisasi disekolah. Demi memfokuskan diri pada pilihan agar menjadi mandiri serta dapat mengenal pelajaran bagaimana di bumi illahi ini. Beriring berjalannya waktu kedekatan ku dengan sul serta dengan kesibukan masing-masing.

            Hari melipat minggu, minggu kembali mengilas bulan, bulan menjelma menjadi tahun, tahun menaiki kelas. Tidak terasa, 7 tahun kami telah melewati semuanya sama-sama. Beberapa tahun tanpa sering jumpa, serta komunikasi. Ia mendadak mengutarakan niat baiknya, sembari berkata “izinkan aku menjadikan mu halal”. Namun pilu terasa, sedih menerpa, haru menghampiri, saat pinanganya ditolak oleh ayahanda ku. Dengan haruk pikuk yang terjadi, hati yg memberontah pada kenyataan. Ku tegarkan diri kemudian menjadi motivator untuknya. “Sul, terkadang harapan tidak sesuai dengan keinginan. Oleh karenya kita tidak boleh mengekspektasikan keinginan kita terlalu tinggi melampaui batas ketetapan syariah. Ini adalah rencana illahi. Maaf, selamanya kita akan tetap menjadi saudara. Izinkan ku untuk hijrah. Biarlah illahi robbi mengatur sesuai rencanaNYA” kata ku padanya. Maka ku putuskan untuk hijrah dalam islami. 

****

Begitu banyak pilihan dalam hidup. Dan saat ku katakan selamanya kita kan tetap menjadi saudara. Illahi robbi mengiyakan. Dan inilah rencanaNYA. Ketika kita telah memilih, maka melangkahlah dengan bijak. Libatkan illahi pada segala urusan. Karena hidup itu pilihan, hidup itu mendewasakan dan hidup memberi arti. Semua terjadi karena cinta. Jadi, jangan pernah menyalahkan cinta. Salahkan, yang menyalahi cinta. Cinta tidak akan pernah salah karena cinta adalah anugrah, rahmat illahi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *